Gamelan pada aplikasi musik  film

Pendahuluan

Latar Belakang

Gamelan pada perkembangannya telah  memasuk pada  media film sebagai ilustrasi musik film bahkan juga digunakan musik sebagai effect pada film. Hal tersebut dapat ditemukan  pada film “Opera Jawa” karya sutradara Garin Nugroho. Film ini merupakan jenis musical dimana tembang-tembang jawa dijadikan dialog dalam mengantarkan alur cerita. Film Opera Jawa telah meraih berbagai macam prestasi atau penghargaan yaitu pada film opera jawa, film ini masuk dalam nominasi Festival Film Internasional Venesia 2006, Festival Film Internasional London 2006 dan Festival Film Internasional Toronto 2006. Dalam Festival Film Indonesia 2006 mendapat nominasi untuk kategori film layar lebar. Dalam Festival International Film Independent Bruxelles Ke-35 di Brussel, Belgia, 4-9 November 2008, film ini meraih penghargaan tertinggi untuk kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik dan Aktris Terbaik.

Selain itu film dokumenter “Sang Budha bersemayam di Borobudur” karya sutradara Marselli Sumarmo juga menampilkan musik gamelan pada filmnya[1] Film ini bertutur tentang perjalanan kehidupan dari sudut pandang ajaran budha.  Film “Sang Budha bersemayam di Borobudur” meraih Piala FFI 2007 untuk film dokumenter terbaik nasional.[2]  Selanjutanya pada film “Sunya” yang diproduksi tahun 2016 dan disutradarai oleh Hari Suharyadi, juga mengangkat tema cerita yang di latar belakangi oleh budaya jawa yang juga menggunakan gamelan pada   filmnya.

gbr.cuplikan fim sunya

Dari ketiga film tersebut mengacu pada teori unsur suara didalam film Bordwell dalam bukunya film Art bahwa,  bahwa suara film terdiri dari Speech merupakan bagian unsur suara yang isinya berupa percakapan dari tokoh didalam film. Speech, ambience, efek Suara dan musik. Musik didalam film digunakan untuk menambahkan dramatisasi dalam sebuah cerita, dimana gambar dan suara sudah tidak mampu lagi memperkuat efek dramatis, tetapi apabila gambar dan suara yang ada sudah mampu menampilkan efek dramatis, musik juga dapat dipergunakan untuk lebih memperkuat efek tersebut. Karena dengan menggunakan musik, pembuat film dapat mengendalikan emosi penonton dalam mengikuti cerita. Musik dalam film dapat digunakan untuk menaikan atau menurunkan emosi penonton, sesuai dengan kebutuhan cerita. Kehadiran musik digunakan untuk merangsang dan mengarahkan perasaan sesuai dengan apa yang dilihat secara visual yaitu senang, sedih, takut, tertekan, dan lain-lain. Sumber dramatis dari musik dalam sebuah adegan dapat bersifat berkaitan dengan adegan, atau fungsional dan realitas. Musik Fungsional, yaitu musik yang digunakan untuk menambahkan dramatisasi didalam film, yang berasal dari luar ruang adegan cerita, biasa disebut ilustrasi musik. Musik yang didengar oleh penonton tidak berasal dari sumber suara dalam adegan maupun didengar oleh karakter dalam adegan. Sedangkan musik realitas, yaitu musik yang berasal dari dalam ruang adegan cerita fungsinya untuk menciptakan kesan realita. Dalam hal ini, musik yang didengar oleh penonton juga didengar oleh karakter dalam film. Maka  gamelan ketika digunakan dalam dalam  film dapat dikatakan sebagai musik film sehingga dapat dikaji dalam bidang kajian seni film.

Rumusan Masalah

Berbekal pengalaman sebagai penata suara film dalam pembuatan karya  film “Sang Budha bersemayam di Borobudur” dimana didalam pengerjaan suara film tersebut  menggunakan  musik gamelan sebagai musik film.  Menimbulkan diskusi yang sangat mendasar dari keilmuan suara, antara kami sebagai Penata suara dan supervisi  suara pada film tersebut terhadap persepsi karakteristik suara tiap instrumen pada gamelan dalam tahapan recording maupun mixing film. Perbedaan pemahaman terhadap pengolahan karateristik suara pada tahap acuan recording maupun mixing hingga mastering untuk menghasilkan hasil akhir musik gamelan pada film secara proposional menjadi pertanyaan dalam  penelitian ini yaitu bagaimana  me-tuning sistem  penyelarasan antara suara gamelan dengan peralatan audio film  agar menghasilkan musik gamelan untuk film yang proposional?

Pada perkembangan sistem  proyeksi suara film saat ini telah mencapai pada titik dimana suara dapat di proyeksikan dengan 3 Dimensi suara yang sering disebut format suara surround  dimana suara  dapat  ditata dan dipersentasikan sehingga  suara terdengar 360 derajat mengintari audience-nya (pendengarnya). Standar format surround adalah 5.1 surround, 7.1 surround dan format surround Atmos yang merupakan sistem tata suara dengan menggunakan 46 speaker yang terpasang didinding hingga celling bagian atas pada langit – langit bioskop.

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan dengan pertanyaan bagaimana menata suara instrumen gamelan dalam format surround ?

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah agar dapat membantu penata suara  dalam melakukan pekerjannya yang diantaranya adalah :

  1. Agar dapat memahami karakteristik suara gamelan dengan pendekatan dan peralatan keilmuan tata suara sehingga menghasilkan musik gamelan yang proposional untuk musik film.
  2. Agar dapat menata  dan meletakan  positioning addres suara gamelan pada speaker yang tepat pada format suara surround film

Dari hasil penelitian ini harapannya penata suara dapat  menata musik gamelan baik secara  kualitas suaranya   dan proposional dalam penataan musiknya didalam film.  

Manfaat penelitian

Harapan dari hasil penelitian gamelan pada aplikasi musik  film dijadikan pustaka bagi keilmuan dan pengembangan bagi kedua keilmuan yaitu musik gamelan dan tata suara film. Sehingga   depannya  dapat membantu penata suara agar dapat bersama sama menghasilkan musik yang proposional dan baik untuk musik film. Hal ini juga menjadi jembatan komunikasi teknis bagi penciptaan pengkaryaan dalam hubungannya music score gamelan film.  Sehingga penata suara dapat mengakomodasi secara maksimal kepada  komposer musik gamelan untuk menghasilkan musik yang baik dan  proposional.

 Tinjauan pustaka

Mengenai  penelitian ilmiah dengan pengukuran nada nada dalam instumen musik sebenarnya telah dirintis oleh physiologist berkebangsaan inggris A.J Ellis pada tahun 1884 untuk menetapkan interval – interval nada dari sistem nada instrumen dengan satuan cent yang hingga saat ini banyak digunakan oleh para musicologist hingga kini. Kemudian Dr. Groneman  yang pernah menjadi hofarts kraton Surakarta dan memberikan angka pengukuran begitu juga Prof Landjang yang mengukur gamelan jawa yang ada belanda dimana beliau  tidak pernah datang mengunjungi ke Indonesia  sehingga pengukuran terhadap gamelan jawa yang ada di belanda.  Selanjutnya upaya tuning sistem  yang fenomenal adalah oleh musikolog berkebangsaan belanda Dr. Jaap Kunst dengan melakukan penelitian tentang sistem nada secara itensif dengan pengukuran wilahan – wilahan gamelan yang berjudul De Toonsunts van java pada tahun 1933 yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa inggris dengan judul buku  yaitu music in java pada tahun 1949 sebagai hasil dari penelitiannya selama 28 tahun memberikan angka angka pengukuran nada gamelan dari gamelan yang banyak bilahannya walaupun juga maih terbatas pada satu oktaf yang kebanyakan diambil dari salah satu saron demungnya.  Kemudian pada tahun 1969  Wasisto Surjodingrat dari Universitas Gajah Mada bersama dengan P.J Sudarjana dan Adhi Susanto melanjutkan riset tentang tuning sistem dengan judul penyelidikan dalam pengukuran gamelan gamelan jawa terkemuka diyogyakarta dan Surakarta dengan tujuan penyempurnaan penelitian pengukuran gamelan oleh Jaap Kunst yang menggunakan alat monochord yang dianggap telah kuno dan terbatas akurasinya terhadap wilahan wilahan saron demung disamping penelitian tersebut sudah berusaia 40 tahun sehingga ada kemungkinan perubahan terhadap laras dari karena bertambahnya usia gameln. Penelitian Wasisto Suryodingrat dan kawan  -kawan mencoba mengukur  suara gamelan tidak hanya mencakup dalam satu oktaf akan tetapi lebih dari satu oktaf dengan berbagai macam gamelan yang ada disurakarta dan Surakarta dengan alat rekam pita analog dan menggunakan system analisis EPUT  (event per unit time)  dan alat oscillator dan serta oktave  noise analyzer dan audio generator.

gbr. Ilustrasi skema penelitian Wasisto Suryodiningrat dkk

Gamelan Jawa adalah seperangkat alat musik yang lahir dan berkembang di Jawa. Secara fisik gamelan Jawa terdiri dari: (1) Rebab, dua rancak Slendro dan Pelog, (2) Kendang, empat jenis untuk laras Slendro dan Pelog, (3) Gender Barung, tiga rancak yaitu Slendro, Pelog Bem, dan Pelog Barang, (4) Gender Penerus, tiga rancak yaitu Slendro, Pelog Bem, dan Pelog Barang, (5) Bonang Barung, dua rancak Slendro dan Pelog, (6) Bonang Penerus, dua rancak Slendro dan Pelog, (7) Slenthem, dua rancak Slendro dan Pelog,  (8) Demung, dua rancak Slendro dan Pelog, (9) Saron Barung, empat rancak, dua Slendro dan dua Pelog, (10) Saron Penerus, dua rancak Slendro dan Pelog, (11) Gambang, tiga rancak yaitu Slendro, Pelog Bem, dan Pelog Barang, (12) Siter, tiga rancak yaitu Slendro, Pelog Bem, dan Pelog Barang, (13) Dua buah Suling Slendro dan Pelog, (14) Seperangkat Kenong, Slendro dan Pelog, (15) Sepasang Kethuk Kempyang Slendro dan Pelog, (16) Seperangkat Kempul, Slendro dan Pelog, (17) Seperangkat Gong, (18) Seperangkat kemanak (kadang-kadang ada). (Hastanto, 2012: 61)

Secara fisik dapat dikatakan bahwa gamelan Jawa memiliki dua pangkon yaitu laras Slendro dan Pelog, sedangkan secara non fisik gamelan Jawa memiliki dua sistem pelarasan (tuning system) yaitu laras Slendro dan Pelog. (Hastanto, 2012: 61) . Istilah ‘laras’  dalam seni karawitan identik dengan istilah tangga nada dalam seni musik diatonis yang artinya susunan nada-nada dalam satu oktaf. Seni karawitan memiliki 2 buah laras yakni laras Slendro dan Pelog. Laras slendro  terdiri atas lima nada yang terdiri dari nada 1 (ji), 2 (ro),3 (lu), 5 (ma), dan 6 (nem), sedangkan pelog terdiri atas tujuh nada yaitu 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 4 (pat), 5 (ma), (6) nem dan 7 (pi) (Hood, 1958: 10).

 Menurut Becker (1984: 40) secara teoritis masing-masing jarak nada antara nada yang satu dan nada yang lain dalam laras slendro adalah sama dengan jarak 240 cent. Namun berdasarkan data  di lapangan, gamelan-gamelan di wilayah Surakarta, Yogyakarta, dan Mojokerto tidak menganut interval yang sama pada nada-nadanya, tetapi hanya cenderung sama atau dengan kata lain perbedaan ukuran nadanya hanya berbeda tipis (Martopangrawit, 1969: 25). Interval dalam laras pelog antara nada yang satu dan yang lain sangat berlainan sehingga apabila disuarakan akan sangat terasa perbedaan tinggi-rendah nadanya.  Untuk memperjelas perbedaan interval antara laras slendro dan pelog disajikan skema menurut Sutton (1991: 28) sebagai berikut:

Skema 1

Perbedaan laras Slendro dengan Pelog

Terisnpirasi oleh musikolog berkebangsaan belanda Dr. Jaap Kunst melakukan penelitian tentang sistem nada pada gamelan, Prof.Dr Sri Hastanto S.Skar guru besar Institut Seni Surakarta  juga  melakukan  penelitian tentang pengukuran antara jarak nada telah dilakukan dengan sebutan Jangkah yang dalam musik  barat disebut interval. Istilah jarak nada yang berbeda ini karena pengetian jarak nada gamelan jawa, sunda dan bali tidak sama dengan musik diatonis yang menggunakan pengukuran jarak tone 200 cent dan semi tone 100 cents pada nada nada instrumennya. (Hastanto 2012 : 22). Jangkah memiliki perbedaan dalam setiap perangkat gamelan jawa yang disebut embat yaitu sundari  dan larasati (Hastanto 2010 : 70-71) dan sigrak. Untuk meneliti tentang  nilai jarak  nada pada nada yang disbut jangkah dan karakteristik gamelan yang disbut embat Prof. Sri Hastanto S.Skar menggunakan peralatan yaitu korg ot 12 orkestral tuner dengan tujuan mencari nilai frekwensi yang kemudian nilai frekwensi tersebut dimasukan ke dalam software sengpielaudio. Di dalam software sengpielaudio tersebut terdapat software sound studio and audio calculation yang secara spesifikasinya menyediakan interfal conversation frequency ratio to cent dimana didalamnya menyediakan chaning of the frequency about cent value. Nilai sumber suara dalam satuan hertz tersebut pada alat Korg Ot-12 adalah A4+25 yang artinya 440Hz + 25 sen  yang kemudian 440 Hz dimasukan dalam kolom intial frequency dan 25 pada kolom pitch changing maka hasilnya adalah 446,399 yang dibulatkan menjadi 446 cents  (Hastanto 2012:103-104)

Kerangka Teoritis

Untuk  memepersatukan perbedaan persepsi karateristik suara instrumen gamelan  pada tahapan proses produksi tata suara (recording, mixing dan mastering) dibutuhkan kajian tuning sistem antara suara instrumen gamelan dengan peralatan tata suara film dalam rangka perkembangan keilmuan suara khususnya tentang musik gamelan dalam aplikasinya pada suara film. Pemanfaatan kemajuan teknologi audio saat ini di era teknologi audio digital memungkinkan semua material sumber suara (sound source) termasuk suara instrumen gamelan dapat dilihat secara asfek fisik suaranya, baik amplitudo maupun frequency-nya melalui tools (peralatan) tata suara sehingga penelitian ini sangat mungkin dilakukan dalam tujuannya mencari dynamic range suara instrumen gamelan. Untuk itu dibutuhkan langkah  action riset  dalam mencari karakeristik dan penataan suara instrumen gamelan dengan merekam sampling suara gamelan  yang kemudian di persentasikan dengan perlata tata suara  kepada empu dan akademis karawitan  untuk bersama menentukan karakteristik suara – suara  yang ada pada seperangkat instrumen gamelan yang dalam hal ini gamelan ageng.  Parameter syarat untuk menentukan empu dan latar belakang akademis serta praktisi harus ditentukan agar penelitian ini mempunyai bobot legimitasi masyarakat kesenian  karawitan dalam penentuan tentang empu dan akademisi karawitan. Selanjutnya  dengan metode “meminjam telinga “ para empu dan akademisi karawitan mencatat atau didata dynamic range  frequency dan ecibel instrumen gamelan dalam penataan musik gamelan. Otoritas pendengaran para empu tersebut menjadi acuan dasar yang diberikan wewenang sepenuhnya untuk menentukan karakter instrumen yang akan dianalisa pada tahapan action riset nantinya. Dari sini maka konsep teori dalam penelitian ini kami sebut Konsep Otoriter Auditif.

 

Metode Penelitian

Metode penenelitian disertasi dimulai dengan membuat  sampling audio dengan merekam satu persatu intrumen yang ada pada  gamelan. Untuk itu diperlukan seperangkat gamelan ageng.  Keberadaan gamelan yang umumnya diletakan  dipendopo  yang cenderung terbuka membuat kondisi tidak kondusif untuk melakukan proses rekaman sampling gamelan. Untuk menghasilkan suara sampling rekaman instrumen – instrumen gamelan  yang terkontaminasi dari suara – suara yang tidak diinginkan maka  porses rekaman akan dilaksanakan ketempat rekaman studio yang salah satunya adalah  intrumen gamelan yang ada di RRI.    Adapun instrumen Gamelan yang akan direkam adalah : (1) Rebab, dua rancak Slendro dan Pelog, (2) Kendang, empat jenis untuk laras Slendro dan Pelog, (3) Gender Barung, tiga rancak yaitu Slendro, Pelog Bem, dan Pelog Barang, (4) Gender Penerus, tiga rancak yaitu Slendro, Pelog Bem, dan Pelog Barang, (5) Bonang Barung, dua rancak Slendro dan Pelog, (6) Bonang Penerus, dua rancak Slendro dan Pelog, (7) Slenthem, dua rancak Slendro dan Pelog,  (8) Demung, dua rancak Slendro dan Pelog, (9) Saron Barung, empat rancak, dua Slendro dan dua Pelog, (10) Saron Penerus, dua rancak Slendro dan Pelog, (11) Gambang, tiga rancak yaitu Slendro, Pelog Bem, dan Pelog Barang, (12) Siter, tiga rancak yaitu Slendro, Pelog Bem, dan Pelog Barang, (13) Dua buah Suling Slendro dan Pelog, (14) Seperangkat Kenong, Slendro dan Pelog, (15) Sepasang Kethuk Kempyang Slendro dan Pelog, (16) Seperangkat Kempul, Slendro dan Pelog, (17) Seperangkat Gong, (18) Seperangkat kemanak semuanya akan direkam kemudian akan diukur dynamic frequency range-nya pada DAW (digital audio workstation) satu persatu bersama para empu dan akademisi karawitan mencari suara yang proposional dalam setiap nada yang kemudian jika dikesepakat dengan nilai suara yang terbanyak maka nilai dynamic range frequency  itulah yang akan dicatat untuk dimasukan sebagai hasil setiap nadanya. Yang kemudian nilai tersebut juga harus divalidasi dengan menggunakan tone generator yang ada di DAW (digital Audio workstation) yang merupakan teknik yang telah digunakan pada penelitian Wasisto Jayadiningrat  dan kawan dari UGM tahun 1969.  Langkah selanjutnya  adalah nada tersebut akan dikelompokan pada kelompok instrumen gamelannya.

gbr. Ilustrasi workflow penelitian

Sistematika Penulisan

Agar pola penyusunan hasil penelitian menjadi jelas dan terstruktur maka hasil penelitian akan disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN menyajikan uraian Latar Belakang tentang obyek penelitian yang menarik untuk diteliti; Perumusan Masalah; Maksud dan Tujuan Penelitian; Manfaat Penelitian yang diharapkan; serta Sistematika Penulisan.

BAB II : LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS menyajikan deskripsi Landasan Teori yang menjadi landasan teoritik penyusunan konsep operasional variabel-variabel penelitian; deskripsi Kerangka Pemikiran yang meliputi rekonstruksi teori-teori dan rekonseptualisasi variabel-variabel penelitian serta penggambaran konsep gagasan, konsep kajian dan konsep penelitian; dan pengajuan Hipotesis sebagai jawaban sementara atas pertanyaan-pertanyaan penelitian.

BAB III : METODE PENELITIAN menyajikan deskripsi penggunaan Pendekatan Penelitian yang terdiri atas Metode Penelitian Kuantiatif yang mencakup Disain Penelitian yang menggambarkan rancangan pengukuran statistic; Definisi dan Operasionalisasi Variable Penelitian; pemaparan Populasi dan Sampel Penelitian; Teknik Pengumpulan Data; dan Teknik Analisis Data; deskripsi penggunaan Metode Penelitian Kualitatif yang mencakup Konsep Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data; dan Lokasi dan Jadual Penelitian.

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN yang menyajikan deskripsi Hasil Penelitian yang meliputi Gambaran Umum Lokasi Penelitian, Hasil Pengukuran dan Pengujian Statistik; dan Pembahasan Hasil Penelitian yang meliputi Analisis Hasil Pengukuran dan Pengujian Hipotesis; dan Pembahasan hasil pengujian Hipotesis yang dikembangkan dengan rujukan hasil wawancara dan penyerapan data dan teori untuk membahas permasalahan secara mendalam dan komprehensif.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN yang menyajikan pokok-pokok Kesimpulan dari pembahasan hasil penelitian; dan Saran untuk disampakan kepada para pihak yang berkepentingan dengan hasil penelitian.

 

Kepustakaan

Wasisto Surjodingrat P.J Sudarjana dan Adhi Susanto (1969), Penyelidikan dalam pengukuran gamelan gamelan jawa terkemuka diyogyakarta dan Surakarta,  Laboratorium Akuistik Fakultas teknik Universitas Gajah Mada

James P Spradely, Metodelogi etnografi (1997) Metodelogi etnografi,.Tiarawacana yogya

Rahmah Ida (2014) , Studi media dan kajian Budaya, Prenada media grup 

Sri Hastanto, (2012), Kajian Musik Nusantara II, Institut  Seni Indonesia (ISI) press, Surakarta

Sri Hastanto, (2012), Ngeng Reng, Institut  Seni Indonesia (ISI) press, Surakarta

Sri Hastanto, (2009), Konsep Pathet, Institut  Seni Indonesia (ISI) press, Surakarta

Mendel Kleiner(2012), Acoustics and AudioTechnology 3rd_edition, Ross publishing

Sutton, R. A. Tradition of gamelan music in java. Cambridge: Cambridge University Press, 1991

White,E. Harvey & White (1980), E.Donald. Physics and Music: The Science of Musical Sound. Philadelpia: Under College

Becker, J(1984). Karawitan: source readings in javanese gamelan and vocal music. (1st.ed). Michigan: University of Michigan



[1] http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-o009-06-964580_opera-jawa/award

[2] http://www.telekomunikasi.web.id/id1/522-419/2007_64920_telekomunikasi.html