Perkembangan teknologi  suara film tidak lepas dari kiprah  Bapak Hartanto di dunia  suara film Indonesia.  Selain  berkiprah  dalam mengerjakan suara film Indonesia, beliau juga orang pertama yang menekuni ilmu bidang suara film secara akademis  melalui Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang sekarang bernama Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Alasannya memilih pemaraan  suara sebagai profesinya adalah pada  saat itu beliau melihat banyak rekan – rekan di LPKJ yang tidak konsen pada suara film akan tetapi lebih pada bidang kepenyutradaraan, kamera dan editing. Pilihan bidang suara film menurut beliau bahwa suara juga bagian terpenting dalam film yang bersifat audio visual. Kemudian setelah lulus dari LPKJ, beliau juga konsisten dengan jalur pendidikannya, yaitu bekerja di bidang suara untuk film.

gbr. Hartanto 

Awalnya pekerjaannya sebagai penata suara beliau masih magang di berbagai studio seperti PFN dan kemudian berusaha untuk membuat studio sendiri dalam pekerjaannya sebagai tugasnya pada suara film.  Di bidang suara film beliau selalu mencoba untuk mencari terobosan – terobosan bagaimana bisa melakukan sesuatu yang dari keterbatasan alat yang tersedia di Indonesia waktu itu. Dengan demikian beliau juga merupakan salah satu pelaku praktisi di bidang suara film dan mengalami perubahan teknologi  suara film Indonesia.Pada dasarnya perkembangan teknologi suara film Indonesia tidak lepas dari perkembangan teknologi suara film dunia. Sehingga banyak para pembuat film berkiblat pada industri film Amerika saat itu, akan tetapi dengan minimnya pembiayaan produksi film  membuat para pembuat film khususnya para pekerja suara film Indonesia berpikir kritis untuk menghasilkan suara film yang maksimal meskipun dengan peralatan yang sederhana bahkan seadanya.

gbr. 35mm multi-track magnetic film mixing di Wetrex Corporation, New York 

Dulu shooting atau kegiatan produksi film dilakukan di studio, cara ini sebenarnya meniru salah satu cara industri film di Amerika. Dengan cara ini sehingga praktis gangguan suara (noise) dari suara di luar studio bukan menjadi hambatan. Sistem perekaman suara waktu itu menggunakan sebuah alat rekam yang besar yang diletakkan di dalam studio dengan menggunakan bahan baku magnetic perforated atau pita sound magnetic 16mm / 35 mm yang berperforasi.

gbr. Recorder  westrex 35 Mm sound magnetic film

Alat perekam yang berukuran yang besar ini diletak bukan di dalam set studio akan tetapi diletakkan di bagian lain di luar studio. Sedangkan microphone menggunakan penyangga microphone yang dapat digerakan sesuai arah yang diinginkan.

gbr. sound magnetic perforated

Setelah itu syncronisasi antara gambar dan suara dilakukan di meja editing dengan menggunakan alat editing dengan nama moviola atau steenbeck. Pada tahap ini syncronisasi yang dilakukan hanyalah dialog.  Pada alat steenbeck terdapat 4  open rell  yang terdiri 2 rell untuk gambar dan 2 rell untuk playback suara dengan pita magnetic perforated 17mm. 

gbr. Mesin editing Steendbeck 

Cara men-sinkronkan gambar dengan suara menggunakan mesin editing steendbeck adalah pada gambar berpatokan pada gambar papan klep dengan melihat tulisan scene shot dan take serta slate kemudian suara dicari sesuai dengan suara sebutan (bahkan teriakan) yang menyebutkan scene, shot, take serta slate yang direkam sesuai dengan tulisan di papan klep eperti pada gambar dibawah ini.  

gbr. Papan klep tempo dulu

Setelah suara dengan  gambar selaras ( sync ) negatif film dipotong bersamaan dengan pita magnetic perforated lalu disambung dan diberi penanda dengan glass Pencil. Setelah editor melakukan editing gambar dan suara, lalu perekaman musik pun dilakukan dengan cara live. Caranya dengan memberi tanda dengan menggunakan pencil glass sebagai tanda waktu musik masuk  dan selesai dengan membagi film menjadi beberapa rell. Sementara itu  musik dibuat, suara efek pun direkam dengan cara yang sama seperti cara perekaman suara musik. Setelah semua selesai baru suara digabungkan menjadi satu dengan master yang diberi nama optical transfer. Pada saat itu di Indonesia optical transfer hanya bisa membuat optical transfer mono yang bisa dilakukan di FPN (Perusahaan Film Negara) dan Inter Studio. Setelah optical transfer dilakukan selanjutnya optical transfer yang merupakan master suara film diputar di proyektor tanpa ada gambar untuk memeriksa hasil keseluruhan unsur suara didalam film tersebut.Teknik pembuatan suara film ini berubah setelah para penata suara mengenal  sebuah alat perekam suara bernama Nagra. Sehingga perekaman suara tidak lagi menggunakan magnetic perforated atau pita magnetic 17 inc berperforasi.  Dengan menggunakan Nagra sebagai alat perekam suara alat rekaman menjadi lebih portable, dan bisa menggunakan power suply baterai maupun adaptor listrik sehingga secara alat menjadi lebih ringkas.  Pada masa itu perekaman suara belum melakukan rekaman suara di lapangan (sound location recording) seperti tehnik rekaman suara film saat ini. Perekaman suara dialog baru dilakukan setelah proses gambar di laboratorium yang kemudian gambar diproyeksikan kelayar sebagai panduan dialog film. Tehnik ini menurut para penata suara film saat itu disebut dubbing.  Untuk melakukan dubbing pemain membaca lipsinc bibir dengan panduan teks yang telah dibaca dan dihafal sebelumnya sambil melihat proyeksi gambar.  Latar belakang teknik dubbing ini digunakan dikarenakan pada saat teknologi film  Indonesia sudah berwarna  sehingga proses laboratorium filmnya  harus keluar negeri dan  pilihannya antara ke Hongkong atau Tokyo. Ketika proses laboratorium film berwarna,  bapak Hartanto yang waktu itu sebagai penata suara film , produser dan sutradara pergi ke Hongkong, mereka melihat semua filmnya di Hongkong di dubbing, alasan film Hongkong di dubbing  bukan karena masalah ekonomi tapi karena film tersebut akan diedarkan dalam beberapa versi bahasa sehingga harus di dubbing.Produser dan sutradara melihat itu merasa praktis dan tidak perlu rekaman di lapangan atau studio karena itulah mereka lebih suka memakai dubbing. Mereka pun membangun studio dubbing pertama dengan nama  Sarinande Film di Radio dalem  Jakarta, dan ternyata  terus berlanjut sampai tahun 1990-an. Dengan populernya sistem dubbing ini membuat lapangan pekerja dubber saat itu menjadi berkembang, awalnya pemain yang berada pada gambar langsung mengisi suara dialog oleh pemain itu sendiri, akan tetapi  setelah cara ini lama berlangsung  terjadi perubahan.  Perubahannya adalah  ketika ada fenomena pemain film yang secara penampilan gambar terlihat gagah dan tampan tetapi suara aslinya tidak sebagus penampilannya di film. Oleh sebab itu maka suara pemain itu diganti oleh suara dubber yang memiliki kesan karakter suara berwibawa  agar sesuai dengan tampilan gagah yang ada difilm, contohnya adalah  Roy Martin. Terkadang pemeran yang tidak penting seperti pemeran pembantu pun diganti suara aslinya dengan  suara orang lain dengan alasan efisensi waktu. Sistem kerja suara film Indonesia menurut Rizal Zaini yang merupakan salah satu team kerja bapak Hartanto  selalu mendapatkan jadwal yang sangat pendek, tentunya hal ini dapat mempengaruhi sistem kerja pekerja suara film. Faktor kedua, dubbing dilakukan pada film Indonesia adalah terutama dikarenakan memang pada waktu itu tidak ada orang yang mau meng-invest kamera yang silent, kamera tersebut belum ada dan juga sangat mahal. Pada jaman itu masih menggunakan kamera Arriflex 2 yang secara kualitas sebetulnya tidak tepat  untuk film bioskop karena hanya mempunya single claw, tidak memiliki register pin sehingga kestabilan gambar itu tidak bisa terjamin 100%. Dengan kamera yang tidak silent tentunya sangat tidak memungkinkan rekaman suara  langsung dilakukan. Proses perekaman dubbing suara dialog yang dilakukan di studio dan mulai menggunakan Nagra open rell. Pada alat perekam Nagra terdapat Pilot Tone yang dapat syncronisation dengan kamera dan proyektor yang menggunakankecepatan gambar 24 frame / secondPilot tone menghasilkan suara pulse generator yang terekam pada  pada pita magnetic. Besaran ukuran pita magnetic dimulai dengan ¼ inch  dan sering disebut Quarter inch. Pada dasarnya setiap semua alat perekam suara memiliki Signal to Noise Ratio (S/N Ratio) yang berbeda. Signal To Noise Ratio adalah perbandingan /selisih / rentang level sinyal suara  antara level normal dengan noise alat yang dihitung dalam satuan dB. Semakin tinggi Signal to Noise ratio-nya, semakin bagus alat tersebut. Signal to Noise Ratio dari NAGRA adalah 72 dB.

gbr. Nagra 4.1 mono

Untuk melakukan rekaman tidak semua alat rekam suara dapat digunakan pada produksi film, akan tetapi perlu ada Pilot Sync yang dapat men-syncronisasi-kan antara recorder dengan kamera film seluloid. Pilot sync menjaga kestabilan tone generator timecode pada pada posisi 24 frame per second dimana kecepatan gambar untuk kamera dan proyektor film 24 per second. Standar kecepatan kamera film dan proyektor dengan kesepakatan di dunia adalah 24 frame per second dengan mengacu pada SMPTE  (Society of Motion Picture dan Television Engineers) yang merupakan sebuah asosiasi profesional terakredasi internasional untuk kemajuan profesional dan pendidikan pada gambar bergerak dan rekayasa di seluruh bidang  komunikasi, teknologi, media, dan industri hiburan.  Asosiasi ini juga dianggap sebagai leader kemajuan seni, ilmu pengetahuan, dan seni gambar dan  suara, dan ekosistem metadata di seluruh dunia.

Standar SMPTE yang digunakan dunia seperti :

  • Semua  media transmisi format film and televisi digital.
  • Interface fisik untuk transmisi sinyal televisi dan data terkait (seperti kode waktu SMPTE  dan Serial Digital Interface (SDI)
  • SMPTE color bars Test card patterns  dan diagnostic tools 
  • The Material eXchange Format atau  MXF

Selanjutnya Nagra selain digunakan untuk merekam dialog juga digunakan untuk perekaman musik, efek dan foley suara film.    Ketika proses mixing suara (penggabungan unsur – unsur suara) Nagra yang digunakan bukan hanya satu akan tetapi menggunakan 3 hingga 10  Nagra kemudian di hubungkan ke mixer analog dan diatur naik turunnya suara yang masuk ke mixer tentunya mengikuti alur adegan gambar, kemudian direkam pada sebuah master dialog, master musik, dan master efek yang di dalamnya juga ada hasil rekaman foley. Lalu semua master – master tadi diputar ulang bersama – sama untuk dijadikan final mixing

 

gbr. Skema mixing film  dengan multy player

Proses ini  disebut sistem Rock and Roll, artinya memberi mark-in pada gambar bersama itu pula peralatan – peralatan player diputar dan seorang  audio mixer memulai pekerjaannya dengan menaik-turunkan suara melalui fader mixer dengan melihat gambar dari proyektor. Proses ini sangat rumit karena ketika terjadi kesalahan maka player akan di putar ulang dari awal.    Disamping itu dengan cara ini akan banyak melibatkan orang untuk memutar  player (Nagra)  untuk memutar  unsur -  unsur  suara film yang telah direkam. Maka dibutuhkan kekompakan di dalam team khususnya para pemutar player Nagra tersebut. Pada  tahun 1985 berkat ketekunannya di bidang suara film bapak Hartanto mendapatkan short course selama tiga bulan tentang sync sound recording dan post production yang pada masa itu merupakan peralihan dari sistem analog yang lama ke sistem semi digital yaitu dengan system timecode  di Australian Film Television and Radio ( AFTR )  yang sekarang berubah menjadi Australian Film Television and Radio School (AFTRS). Di Australia pun masih sistem peralihan karena disana juga masih ada sistem yang dengan system Rock and Roll dimana semua dengan track – track magnetic film perforated dengan sinkronisasi melalui mekanik.  Disana ia  belajar bagaimana seorang diri bisa mixing dengan banyak track melalui Rock and Roll system  dan  juga mulai menggunakan peralihan ke sistem penggunaan multy track recorder dengan material pita 2 inch.

gbr. Studio dengan multy track recoder

Sedangkan multy track ini di Indonesia masih digunakan untuk keperluan rekaman musik belum digunakan untuk keperluan penggarapan suara film. Sedangkan disana mulai menggunakan sinkonisasi  suara dan gambar dengan menggunakan player Betacam.

gbr. Player Betacam

Setelah pulang dari Indonesia ternyata sistem multy tracking mixing dengan menggunakan pita 2 inch belum juga ada di Indonesia.  Hingga tahun 1990-an akhirnya ia mencoba sendiri memodifikasi 2 inch yang ada di PPFN (yang sekarang berubah nama menjadi PFN) yang tidak memiliki timecode agar supaya bisa sync dengan gambar film melalui proyektor.  Agar suara bisa lock ke proyektor maka dicari cara dengan menggunakan satu track untuk pilot tone. Pilot tone disesuaikan  dengan Herzt-nya PLN, satu track untuk timecode, dan satu track lagi untuk panggilan timecode (call timecode). 

gbr. Muty track recoder

Ketiga track tersebut digunakan masih manual sifatnya, jadi dijaga betul supaya bisa sync dengan kontrol dari osiloscope, di monitor agar tidak terjadi bentuk bulatannya itu terbalik dan menggelimpang. Sistem itu sukses dilakukan ketika film seperti, Lagu Untuk Seruni, Perwira dan Kesatria, kemudian juga untuk Film Pelangi di Nusa Laut dan beberapa film yang lain.

gbr. osiloscope

Untuk menjadi sound designer, bapak Hartanto kemudian membuat studio sendiri. Alasannya menurutnya waktu itu dikarenakan  jika seseorang yang ingin menjadi sound designer film bioskop  jika tidak punya studio biasanya susah masuk, sedangkan magang terlalu lama. Dan akhirnya beliau putuskan untuk membuat sebuah studio yang sangat sederhana yaitu di Monas bernama Audi Sindo Studio dengan biaya yang pas – pasan dan dengan tambal sulam akhirnya bisa berjalan dan cukup laku. Hingga  pada tahun 1989  ia telah mengerjakan 30 film dalam setahun.  Beliau juga orang pertama yang benar –benar memikirkan hasil akhir sebuah film. Beliau merupakan orang pertama yang membuat sistem suara stereo yang semua pengerjaannya dilakukan di Indonesia. Pada saat itu untuk pengerjaan suara stereo film  harus dikerjakan di luar negeri. Kemudian beliau membuat  untuk mixing Dum suara film pada  sistem stereo, beliau menyebutnya dengan audi stereo. Film pertama yang menggunakan stereo system  dengan pengerjaan semua dilakukan di lokal adalah  Film Sahur Sepuh 3.

gbr.Poster Saur Sepuh 3

Film beliau yang menggunakan sistem dolby stereo adalah Film Tutur Tinular, dimana untuk proses dolby-nya dilakukan di Los Angeles, Amerika. Berkat film ini beliau mendapatkan penghargaan Piala Citra. Penggarapan film ini cukup menarik dimana waktu itu penggarapannya menggunakan system studio “No Maden”, yaitu  dubbing-nya di studio Dwigita di Utan Kayu, kemudian penggarapan sound effect-nya di Cinevisi, mixing-nya di ruang kerja Kanta Indah Film. Kemudian dibawa ke NT Audio Visual di Los Angeles untuk ditransfer ke stereo optic. Untuk menjadi penata suara yang berdedikasi dan penuh tanggung jawab tidaklah mudah, begitu pula proses yang dialami bapak Hartanto. Pada waktu proses Film Bulan Tertusuk Ilalang,  memang ada sedikit kesalahan. Proses mixing dilakukan di PPFN, kemudian materi master final mixing  dibawa oleh Rizal “Icang” Zaini  ke Los Angeles untuk transfer optic. Tetapi karena tidak ditunggui akhirnya ada terjadi kesalahan transfer. Dalam artian, ada nada rendah yang muncul secara periodik frequency rendah. Begitu preview waktu itu di kantor 21 ada suara “nguk nguk nguk. Dan beliau putuskan dikerjakan ulang, dalam artian bukan remix ulang akan tetapi hasil remix akhir kita revisi yaitu dengan memotong dan menghilangkan nada rendah yang secara periodik muncul. Artinya bahwa beliau harus transfer optic ulang yang biayanya cukup besar yang berkisar lima belas juta rupiah pada waktu itu. Nilai uang tersebut sangat tinggi pada waktu itu. Karena produser sudah tidak mau menambah biaya lagi, karena pada waktu itu dana produksi film berasal dari pihak pemerintah yaitu dari Departemen Penerangan. Departemen Penerangan tidak mau mengeluarkan uang lagi dan akhirnya beliau menjual rumah yang berada di daerah Cibubur untuk biaya tersebut. Dan untuk proses transfer optic Film Bulan Tertusuk Ilalang, dititipkan bersamaan proses film yang berikutnya yaitu Film Cemeng 2005. Film tersebut cukup bagus, dan pada Festival Film Asia Pasifik mendapatkan nominasi untuk sound designer.

gbr. Poster film bulan tertusuk ilalang

Dari peristiwa ini dapat dibayangkan demi untuk sebuah tanggung jawab dan kualitas suara film yang dikerjakannya beliau mau berkorban secara materi dengan menjual rumah demi reputasi dan tanggung jawabnya sebagai penata suara film, meskipun hal itu bukan kesalahan langsung beliau. Dari pengalaman ini membuat beliau selalu berhati – hati terutama terhadap proses kerja (workflow) dalam pengerjaan suara film. Dari pengalamannya mendapatkan ilmu di Australia, beliau juga mencoba mengaplikasikan teknik – teknik audio post  yang diaplikasikan dengan peralatan yang seadanya dengan tetap menerapkan sistem tehnik tersebut meskipun dengan segala keterbatasan peralatan waktu itu. Salah satunya ketika beliau menggunakan stereo dolby pada Film Saur Sepuh 3, yang proses dolby-nya di Amerika.

gbr. Logo Dolby Stereo

Untuk dapat menggunakan untuk monitoring sistem stereo dolby di studionya ia menggunakan decoder stereo dolby prologic yang biasa dijual di Glodok. Meskipun tidak menggunakan peralatan decoder yang bukan  standar studio dolby, sistem ini dapat digunakan.  

gbr. Amplifier Yamaha dengan fasiltas Doby Pro Logic

Sempat ada keraguan tentang akurasi suara dolby,  hal ini ia tanyakan pada tempat transfer optic itu diluar negeri, menurut mereka  sebenarnya awal – awalnya mereka juga menggunakan cara seperti itu, yaitu dengan  menggunakan decoder yang dipakai di rumah untuk spesifikasi home theatre. Jadi menurut pandangan mereka memang tidak terlalu salah akan tetapi perkembangan mereka sangat cepat sehingga telah menggunakan decoder dolby yang sudah sangat canggih saat itu. Pada Film Tutur Tinular Idris Sardi juga terheran ketika suara  bisa diposisikan di belakang untuk suara trombone dan suara terompetnya di depan, meskipun pada awalnya dia juga agak kecewa karena waktu diputar pada sistem suara mono  banyak suara  musik yang tidak keluar, akhirnya begitu diputar dengan yang benar suara bisa keluar dan dimensinya bisa lebih terasa. Setelah Film Cemeng 2000 dan pada saat penggarapan Film Kuldesak dan Film Fatahillah, studio di monas milik bapak Hartanto digusur dan kemudian  pindah ke Cinevisi dan disinilah mulai teknologi suara film mulai menggunakan komputerisasi untuk pengolahan suara film yaitu dengan menggunakan software Protools 5 dan hardware AD/DA 888 Digidesign dengan kapasitas 8 in dan 8 out analog.

gbr. Awal tampilan software Protools

I/O 888 adalah sebuah alat untuk merubah suara analog menjadi digital (AD) dan merubah digital menjadi analog (DA). Dengan menggunakan 8 out artinya dapat digunakan untuk kegiatan mixing 7.1 surround.

gbr. Sound card Interface 888

Untuk syncronisasi gambar diputar dengan betacam kemudian timecode out dari betacam dihubungkan ke hardware optionional  yang dinamakan Universal Slave Driver (USD)maka syncronisasi antara gambar dan suara dapat dilakukan dengan software.

gbr. Universal Slave Driver

Sistem DAW (Digital audio workstation) yang menggunakan sistem software dan hardware Protools ini menjadi populer di Indonesia dan akhirnya melahirkan studio – studio baru seperti Formix, Cross Fade, Studio Kamar Kecil, Golden 9 Studio dan lain-lain serta melahirkan sound designer baru seperti Satrio Budiyono, Khimawan Santosa, Adityawan Susanto dan masih banyak lagi.  Sistem direct sound recording atau rekaman langsung di lapangan pertama kali di Indonesia dilakukan oleh Norman Benny dalam film Opera Jakarta demgan sutrada Syuman Djaya, meskipun sebelumnya direct sound juga dilakukan oleh Mulyo Handoyo difilm komedi akan tetapi gagal. Kegagalan Mulyo Handoyo saat itu disebabkan oleh ketidak siapan sumber daya manusianya untuk melakukan kegiatan perekaman suara secara  langsung.  Selanjutnya Opera Jakarta meskipun secara kualitas dianggap gagal akan tetapi film Opera Jakarta selesai dikerjakan  dan dianggap film pertama yang melakukan direct sound. Setelah pulang dari Australia bapak Hartanto, bukan hanya mengaplikasikan  tentang sistem audio post di Indonesia beliau juga mengaplikasikan direct sound recording  di Indonesia dengan perekaman suara langsung dilapangan menggunakan Nagra recoder. Perkembangan selanjutnya pada peralatan recorder yang semula menggunakan Nagra recorder yang menggunakan pita magnetic ¼ inch mulai beralih pada Digital Audio Tape (DAT) Recorder yang umum dipakai oleh para perekam suara film di Indonesia pada awal teknologi digital yang sering digunakan di lapangan adalah Sony DAT Recorder.

gbr. DAT recorder

Alat ini menggunakan sistem perekaman digital dengan berbahan baku pita kaset. Pada recorder ini mempunyai timecode dan memiliki 2 jalur untuk rekaman, sehingga dengan menggunakan recorder ini dapat mengaplikasikan teknik microphone M/S untuk dimensi perekaman stereo. Kelemahan peralatan ini adalah bahan bakunya yang masih pita sehingga data harus di transfer secara manual dengan cara di playback kemudian direkam kembali (Capture) oleh komputer DAW (Digital Audio Workstation.) Pada dasarnya perkembangan teknologi suara di Indonesia saat ini banyak dipengaruhi oleh penerapan teknologi bioskop khususnya bioskop XXI. Hal ini dikarenakan bagaimanapun hasil akhir suara film tentunya akan diputar di proyektor bioskop. Maka Sound Designer atau penata suara akan mengacu hasil suara akhir / format suara akhir film  berorentasi ke teknologi  bioskop yaitu bioskop XXI. Pengaruh kemajuan teknologi  suara film di Amerika juga mempengaruhi bioskop di Indonesia hal ini terjadi karena bioskop di Indonesia khususnya bioskop XXI banyak memutar  film Amerika yaitu film dari Hollwood. Sehingga untuk memaksimalkan proyeksi gambar dan suara film impor tersebut maka bioskop dalam hal ini bioskop XXI menyesuaikan teknologi proyeksi suaranya. Maka dengan sendirinya ada perubahan teknologi suara dari dolby dari dolby stereo, Dolby SR, kemudian Dolby digital hingga Dolby atmos pada bioskop XXI. Di jaman proyektor dengan seluloid di bioskop, disamping data suara dengan format dolby digunakan untuk suara film, untuk menghindari kesalahan teknis dalam proyeksi suara dibuat juga data stereo analog  pada film seluloid. Pada dasarnya data optical  suara analog stereo film ini hanya digunakan sebagai back up (cadangan) ketika teknologi dolby mengalami gangguan yang hampir tidak mungkin terjadi dikarenakan sistem dolby telah menggunakan sistem digital.  Akan tetapi sistem optical analog stereo ini banyak dimanfaatkan dan digunakan oleh film – film indonesia untuk menyiasati pembiayaan format akhir suara film yang lebih murah. Untuk menggunakan teknologi dolby pembuat film harus membayar license dolby sekitar kurang lebih 48 juta rupiah ke dolby laboratorium di London.  Kemudian setelah membayar license dolby maka proses final mixing harus dilakukan diluar negeri seperti di Thailand, Hongkong, Singapura, Australia dan negara lainnya. Hal ini dilakukan karena di Indonesia  belum adanya studio suara film Indonesia yang menggunakan dan mepenliki  license dolby untuk studio mixing filmnya. Setelah itu studio pasca produksi diluar negeri akan memberikan master suara dari dolby berupa Magetic Optical Disk (MO-disk) dan optical sound mastering, proses selanjutnya adalah married print.

gbr. Magnetic Optical Disk

Karena pertimbangan harga maka proses married print atau proses  penggabungan gambar dan suara pada pita seluloid  dilakukan di Indonesia yaitu di PFN untuk format stereo atau di Inter Studio dengan format suara surround 5.1 sekaligus  membuat duplikasi film (Copy master) umumnya di kerjakan di Inter Studio. Hanya film – film memiliki pembiayaan “agak” besar yang menggunakan lisensi dolby. Sehingga wajar di jaman film seluloid banyak ditemukan format akhir film indonesia masih banyak  menggunakan sistem stereo.

gbr. MOdisk Recorder

Dengan berubahnya sistem proyeksi gambar dan suara dengan   menggunakan sistem protektor Digital Cinema Packget (DCP). DCP ini merupakan   sistem  teknologi film dengan menggunakan sistem teknologi digital untuk gambar dan suaranya. Sehingga dengan jaman teknologi digital di Indonesia sekarang ini membuat para pembuat film indie maupun komersial mengalami euphoria kemudahan operasional teknologi digital. Secara sederhana, DCP menurut SMPTE adalah kualitas gambar digital  yang setara dengan kulitas gambar film print 35mm. Materi DCP sekarang ini adalah materi gambar dan suara yang  diputar untuk bioskop komersil yang disebut juga "D-Cinema" proyektor. Seperti print 35mm, sebuah DCP adalah standar proyeksi gambar dan suara di seluruh dunia.  Alasan  terjadi perpindahan media dari film seluloid menjadi DCP adalah :

  1. Kompetibilitasnya, karena munculnya D-Cinema, film 35 mm telah hampir lenyap dalam beberapa tahun terakhir. Banyak bioskop komersial saat ini sudah tidak memiliki peralatan proyektor 35 mm sama sekali. Hampir semua bioskop baru menggunakan teknologi digital hanya di akademisi (sekolah film) dan itupun ketika memasuki ke dunia profesional maka tetap saja kembali menggunakan DCP.
  2. Biaya jika dengan menggunakan  film 35 mm, maka film akan ditransfer ke proses digital komputer dan dikerjakan pada Avid atau Final Cut Pro (sistem editing nonlinier), selanjutnya film akan di print ke film  telecine (proses meng-konversi file digital ke print film 35 mm). Biaya untuk sebuah film telecine biasanya $40.000 atau lebih. Setiap print tambahan sekitar $1.500. Sebaliknya, dengan menggunakan sistem DCP akan lebih murah dengan biaya 95% lebih murah. Dengan penghematan biaya besar seperti itu, maka mudah untuk melihat mengapa semua studio film besar telah bergerak ke arah distribusi digital.
  3. Manfaat lain adalah bahwa DCP  tidak aus seperti 35 mm. Digital copy tidak mengalami penurunan kualitas gambar, sehingga tidak akan pernah rusak, tergores atau kotor pada sistem DCP meskipun film diputar 1000 kali akan tetap akan terlihat sempurna seperti pertama kali diputar.

Biaya sebuah fitur digital profesional yang dikodekan DCP biasanya biaya antara $1400 hingga $3000 (tergantung pada runtime dan pilihan), dengan additional copies sekitar $170 - $300 masing-masing. Untuk membuat DCP yang perlu  diperhatikan adalah :

  1. Penguasaaan teknis, dengan  proses yang benar ketika  meng-konversi video dan file audio ke format yang diakui oleh sistem D-Cinema.
  2. Penjagaan kualitas atau 'Quality Control' adalah di mana produk film akhir diperiksa dengan teliti agar tidak terjadi distorsi gambar atau suara seperti timecode drop out, masalah sync, gamma, warna, dan lain – lain. Langkah ini sangat penting, karena bila terjadi kesalahan dalam proses mastering maka dipastikan bahwa hasil akhir akan cacat. Karena dengan adanya kesalahan sekecil sekalipun akan  terlihat jelas pada layar bioskop dengan dimensi 30 kaki (foot).

Tahap transfer ke USB atau CRU drive. Proses ini adalah langkah terakhir ketika file akan dibuat yang disebut DCP. Data akan  ditransfer ke External  format 2/3 hard drive dengan sistem Linux. Drive yang digunakan dapat berupa USB portabel standar atau profesional "DX115" Drive carrier, yang disebut CRU. Academy of Motion Picture Arts and Sciences akan menerima DCPS kualifikasi untuk Academy Award sebagai berikut :

  • Video: 24 frame per detik
  • Kompresi : JPEG2000
  • Colour Space : XYZ
  • Video Format: 2K – dengan ukuran pixel 2048x1080, 1920x1080, 1998x1080, 2048x858
  • Audio Format: 24-bit, 48 kHz terkompresi, Minimum suara terdiri 3 channel (Kiri, Kanan, Center) atau 5.1 (L, R, C, LFE, LS, RS) Audio channel Mapping suara adalah: 1: Left, 2: Right, 3: Center, 4: Subwoofer, 5: Left Surround, 6: Right  Surround Enskripsi: data  terproteksi dengan system er-enskripsi

Adapun frame rate yang digunakan untuk DCP adalah dengan  memaksimalkan kompatibilitasnya, maksudnya saat pengambilan gambar (shooting) menggunakan frame rate yang sama dengan editing yaitu di 24p (progresif) dan membuat 24 fps (frame per second) ketika pembuatan master DCP. Jika ingin memenuhi persyaratan  mengikuti standar Academy Award, film harus mempunyai kecepatan gambar  pada  DCP yaitu 24 fps.  Begitu pula Jika film dirancang untuk dijual kepada pembeli asing, banyak orang akan menuntut DCP 24 fps. Akan tetapi masalah kecepatan gambar bukan sesuatu masalah yang besar saat ini, karena pada editing terdapat video converter yang dapat merubah   kecepatan gambar pada 25, 30, atau 48 fps untuk keperluan DCP. Contohnya Untuk 24 fps DCP, gambar dapat di-edit hingga selesai di 23.98 (secara teknis 23,976) dan fasilitas mastering akan disesuai dengan kecepatan gambar film  yaitu  24.00 fps. Dengan teknologi digital yang digunakan pada pembuatan DCP maka memungkinkan siapapun dapat membuat master DCP, meskipun demikian perlu kehati-hatian untuk memilih software  pembuat DCP. Karena tidak semua software dapat  bekerja dengan baik pada semua server D-Cinema, contohnya adalah tidak mampunyai mempertahankan warna dan gamma, data tidak  dapat di-enkripsi ( tidak memungkinkan untuk mendapatkan lisence DCP ).  Bagi pembuat DCP yang baik  harga software-nya berkisaran  $5000 - $15.000 perlisensi. Contoh software  profesional yaitu EasyDCP, QubeMaster Pro dan Clipster.Sejarah teknologi  suara film di Indonesia ini dapat dirangkumkan bahwa penerapan teknologi pada metode produksi suara film Indonesia saat ini telah beranjak dari teknologi analog menjadi teknologi digital. Sehingga dari semua proses produksi suara film di Indonesia telah  berubah dengan menerapkan teknologi digital.