http://1.bp.blogspot.com/_NH-xSMedrAY/SXRmpGfOeWI/AAAAAAAAAHA/5KsWoQK5E0I/s320/180px-Edison_face.jpgSejarah awal  penemuan  dan perkembangan teknologi suara film didasari oleh pemikiran synchronize (menyamakan) suara dan gambar pada film, dipelopori oleh orang berkebangsaan Amerika yang lahir pada 11 Februari 1846 yang bernama Thomas Alfa Edison. Thomas Alfa Edison bekerja sebagai ilmuwan dan pengusaha dalam menciptakan penemuan-penemuannya. Semenjak ia menemukan perbaikan alat komunikasi  telegraf yang dapat mencetak pesan pada kertas yang panjang di tahun 1870 dari hasil  uang paten ciptaannya, ia membuat perusahaan bernama General Electric di Menlo Park, New Jersey. tempat ilmiah yang melahirkan penemuan pentingnya hal ini di paparkan dalam tulisan Baldwin, Neal pada tahun 1995 tentang Edison: Inventing the Century. Dengan perusahaannya, Thomas Alfa Edison dianggap ilmuwan yang produktif dalam penciptaan teknologi pada masanya dengan memegang rekor 1.039 paten atas namanya. Banyak penemuan yang telah ditemukan olehnya diantaranya, gramafon pada tahun 1874  dan lampu listrik pada tahun 1879. Ia juga banyak membantu pertahanan  pemerintahan Amerika yaitu alat pendeteksi pesawat terbang, pendeteksi kapal selam, penghancur periskop dengan senjata mesin, menghentikan terpedo dengan jaring, meningkatkan kekuatan dan kecepatan terpedo, kapal kamuflase, dan masih banyak lagi.  Pada tahun 1877 Edison menemukan Phonograf yaitu alat yang dapat merekam suara dan diperdengarkan kembali ( playback ) dengan menggunakan sillinder berupa plat besi, penjelasan teknis mesin ini dijelaskan pada laman http://edison.rutgers.edu.

Dengan temuannya ini oleh Joseph Henry, Presiden dari  National Academy of Sciences  di Amerika menyebutkan bahwa Edison merupakan penemu yang paling jenius dibandingkan yang lain diseluruh Amerika. Hal ini wajar karena telah banyak penemuan yang telah dipatenkannya.

Pada tahun 1878 Eadweard Muybridge yang lahir di Kingston upon thames Inggris pada tanggal 9 April 1830  merupakan  seorang fotografer  yang mendokumentasikan gambar foto penunggang kuda yang sedang berlari dengan menggunakan beberapa kamera yang dipasang sejajar.

Dari hasil  gambar foto kuda yang sedang berlari tersebut, disusun secara berurutan dan dirangkaian pada plat kaca sehingga menimbulkan  kesan gambar bergerak  (motion picture). Dasar penemuan ini pula nantinya akan mengilhami cara kerja pembuatan motion picture pada film kartun.  Untuk membuktikan gambar bergerak (motion Picture), Eadweard Muybridge membuat sebuah  mesin proyeksi untuk memutar gambar/foto still (gambar diam) menjadi motion picture yang dinamakan zooparciscope. Dari penemuan ini pula dapat menjawab isu  pada masa itu  bahwa ada satu momen dimana kaki kuda tidak menyentuh tanah ketika kuda tengah berlari kencang. Gambar gerak kuda tersebut menjadi gambar gerak pertama di dunia. Dimana pada masa itu belum diciptakan kamera yang bisa merekam gerakan dinamis.

Ide untuk mengabungkan dan menyelaraskan suara dan gambar sebenarnya sudah ada ketika pada  25 Febuari 1888, di Orange, New Jersey, Muybridge memberikan sebuah pelajaran yang meliputi demonstrasi zoopraxiscope, sebuah alat untuk memproyeksikan beberapa gambar yang digambar di sepanjang pinggir piringan kaca, memproduksi ilusi gerak.  Pelajaran tersebut dihadiri oleh Edison dan fotografer perusahaannya serta Willian Kenedy Laurie Dickson, membuat Edison tertarik untuk mengembangkan dan mewujudkan penemuan alat gambar bergerak.

 gbr. Zoopraxiscope

Dua hari kemudian pada tanggal 27 Februari 1888, Muybridge dan Edison bertemu di laboratorium Edison di Orange West secara pribadi. Muybridge kemudian menjelaskan bagaimana menginginkan kolaborasi untuk menggabungkan alatnya dengan Phonograf milik Edison yang telah lama ditemukan, yaitu sebuah kombinasi sistem yang dapat memainkan suara dan gambar secara bersamaan. Akan tetapi dari pertemuan itu tidak ada kesepakatan antara Muybride dan Edison. Persoalan lainnya adalah  karena pada saat  itu belum adanya penguat suara (Amplifier) yang dapat mengakomodasi penonton  untuk ruangan yang besar. Akhirnya Muybridge meneruskan penelitian tentang motion picture sedangkan Edison mengembangkan Kinetoscope.   

gbr. Eadweard Muybridge

Setelah pertemuan itu Thomas Alfa Edison bersama Willian Dickson memilih  membuat tim sendiri agar  tidak  ketinggalan melakukan penelitian tentang suara dan film. Penelitian Edison tentang film terbantukan oleh penemuan George Eastman tentang pita seluloid pada tahun 1884 . Pita film (seluloid) temuan Geroge Eastman terbuat dari plastik tembus pandang yang ke depannya menjadi bahan baku pembuatan  gambar / picture. George Eastman  dilahirkan pada tanggal  12 Juli 1854 di Waterville, New York Amerika Serikat. Setelah menemukan film seluloid.

gbr. George Eastman

Pada tahun 1891 dibantu Hannibal Goodwin, George Eastman memperkenalkan kepada Thomas Alfa Edison satu rol film yang dapat dimasukkan ke dalam kamera. Dan Thomas Alfa Edison menggunakan temuan George Eastman dan  Hannibal Goodwin Tersebut untuk mendukung cara kerja Kinetoscope buatannya. George Eastman akhirnya  mendirikan Eastman Kodak Co yang juga menjual kamera Kodak dengan bahan baku film di dalamnya.    Alat yang dirancang dan dibuat oleh Thomas Alfa Edison itu disebut Kinetoscope yaitu alat berbentuk kotak dan diatasnya ada lubang untuk menyaksikan atau mengintip suatu pertunjukan. Kinetoscope merupakan alat yang menampilkan  gambar bergerak pertama di dunia yang menampilkan gambar bergerak.  Alat ini dapat memperlihatkan film secara  individual melalui lubang kecil yang menyerupai jendela dijelaskan pada buku  Dickson W.K.L. (1907). Edison's Kinematograph Experiments, in A History of Early Film ed. Stephen Herbert. London and New York : Routledge. Sebutan Kinetoscope sendiri berasal dari  berasal dari bahasa Yunani “kineto” yang berarti gerakan dan “scopos” yang berarti melihat. Kinetoscope tersebut dipatenkan pada tanggal 17 Oktober 1988. Selain itu Thomas Alfa Edison memantenkan 3 ciptaannya yaitu untuk penciptaan sebuah alat perekam gambar bergerak seperti pada fonograf merekam suara. Sedangkan paten untuk kinetograph (kamera) dan kinetoscope (alat untuk melihat) diberikan pada tanggal 24 Agustus 1891.

                                             

                 gbr. Fonograf                   gbr. Kinetograph                              gbr. Kinetoscope 

Edison membangun studio film pertama di New Jersey dan memulai membuat  pertunjukan film pertamanya pada tanggal 23 April 1896 di kota New York, Amerika Serikat. Perekaman gambar pertama dengan menggunakan kinetograph adalah adegan dimana seorang pegawai Edison yang bernama Fred Ott berpura-pura bersin. Pertunjukan ini segera populer di Amerika Serikat hingga akhirnya menyebar ke luar negeri, terutama di negara-negara Eropa.  Pada 14 April 1894, pertunjukan komersil pertama gambar bergerak dalam sejarah diselenggarakan di New York, menggunakan sepuluh Kinetoscope.


gbr. Fred Ott bersin sumber http://www.loc.gov/collection/edison-company-motion-pictures-and-sound-recordings 

 gbr.  Pertunjukan komersil pertama gambar  bergerak dalam sejarah di New York

Sementara itu di Perancis, Antoine Lumiere dan kedua anaknya memiliki pabrik material fotografi di Lyons, Perancis. Setelah menyaksikan pertunjukan Kinetoscope milik Edison saat musim panas tahun 1894, Antoine tertarik dan menyarankan kepada kedua anaknya Louis dan Auguste untuk mengembangkan alat Kinetoscope milik Edison tersebut. Dua kakak-beradik Ausguste Lumiere dan Louis Lumiere dari Perancis merupakan pengagum dan penonton setia Kinetoscope. Tapi Lumiere bersaudara bukan sekadar menjadi pengagum dan penonton. Mereka juga adalah penonton kreatif. Keduanya kemudian merancang peralatan baru yang mengkombinasikan kamera, alat memproses film, dan proyektor menjadi satu.


gbr. Louis Jean & Auguste Marie Louis Nicholas (Lumiere Bersaudara)

Ausguste Lumiere dan Louis Lumiere menyebut peralatan ciptaan baru mereka dengan sebutan sinematografis (cinematographe). Metode kerja mesin ini terletak pada  mekanisme gerakan tersendat (intermittent movement) yang mirip dengan mekanisme mesin jahit. Mekanisme ini memungkinkan setiap frame dari film yang diputar akan berhenti sesaat untuk disinari lampu proyektor sehingga gambar tidak akan tampak berkedip-kedip. Untuk proyektor, mesinnya dipasang menggunakan tiang kayu dengan lampu elektrik yang dibuat khusus oleh Molteni, ahli lampu. Perbedaanya pada Kinestoscope adalah peralatan sinematografis diproyeksikan ke layar dan dapat ditonton orang banyak sedangkan Kinestoscope penonton menikmati pertunjukan film secara individual dengan cara mengintip.

gbr. cinematographe

Pertunjukan  dengan peralatan sinematografis perdana dilaksanakan pada tanggal 22 Maret  1895 kepada The Society for the Promotion Industry, dengan judul, “Workers Leaving the Lumiere Factory” (pekerja meninggalkan pabrik Lumiere) yang diambil oleh Louis. Di masa awal penemuannya, peralatan sinematograf tersebut telah digunakan untuk merekam adegan-adegan yang singkat. Misalnya, adegan kereta api yang masuk ke stasiun, adegan anak-anak bermain di pantai, di taman dan sebagainya. Film pertama kali dipertontonkan untuk khalayak umum yaitu film The Great Train Robbery dengan membayar tiket, acara berlangsung di Grand Cafe Boulevard de Capucines, Paris, Perancis pada 28 Desember 1895. Peristiwa ini sekaligus menandai lahirnya film dan bioskop di dunia. Sejak ditemukan, perjalanan film terus mengalami perkembangan besar bersamaan dengan perkembangan atau kemajuan-kemajuan teknologi pendukungnya.

                               

                                                                            gbr. Film Workers Leaving the Lumiere Factory                      gbr.Poster Film pertama didunia

Dari pertemuan pribadi Thomas Alfa Edison dengan E. Muybridge pada 27 Februari 1888  merupakan cikal bakal  ide  untuk menggabungkan gambar bergerak dengan rekaman suara. Pada kesempatan itu juga Muybridge ia mengusulkan sebuah skema untuk film suara yang akan menggabungkan gambar zoopraksiscope dengan rekaman suara teknologi Edison. Hasil pertemuan mereka tidak menemukan kesepakatan dan persetujuan kerja sama pun tidak tercapai. Edison memilih membuat  team untuk  mengembangkan Kinetoscope temuannya sebagai dasar menampilkan gambar bergerak secara visual dan menggabungkan sistem Phonograf  silinder yang juga ciptaannya sebagai alat perekam suara dan pemutar suara. Kinetoscope dan Fonograf silinder digabungkan menjadi alat bernama Kinetofon pada tahun 1895. Edison mengembangkan Phonograf buatannya untuk dapat mendengarkan rekaman suara berbarengan dengan putaran rol selulosa / seluloid buatan Hannibal Goodwin dan George Eastman. Sedangkan materi suara berada pada plat silinder dan diputar bersamaan dengan materi film dengan bahan baku seluloid. Untuk mendengarkan suara film yang diputar, Kinetophone  dilengkapi  eraphone  sebagai alat bantu mendengar suara film. Film pertama yang dibuat pada mesin ini adalah gambar pemain biola dan sepasang penari disampingnya sedangkan suaranya adalah  suara instrumen  biola dengan suara sepatu penari disampingnya.

                        

gbr. Adegan film pada Kinetpone                                 gbr. Kinetophonee

Alat ini sangat populer hingga ke Eropa,  namun  kepopularan  Kinetophone yang berbentuk lemari untuk melihat gambar bergerak untuk perorangan segera ketinggalan jaman setelah suksesnya sistem proyeksi gambar film di Perancis.  Pada 1899 di Perancis, François Dussaud baru menemukan electric phonograf yang merupakan “pengembangan” peralatan suara Edison. Meski mirip dengan cara kerja Kinetophone, sistem ini memerlukan listrik untuk menggunakan sistem silinder yang disertai penyuara berbentuk earphone. Dengan menggunakan dasar synchronisasi sebelumnya, membuat perkembangan sistem proyeksi gambar dan suara juga berkembang di Perancis. Seperti Phonorama, Cronophone dan  Phono-Cinéma-Théâtre ke semuanya selanjutnya disebut dengan teknologi Sound On Disk  yaitu sistem proyeksi gambar yang digabungkan dengan sistem phonograp dipamerkan di Paris Word Fair pada tahun 1900.   

gbr.Chronophone

Tiga masalah utama tetap ada, menyebabkan film dan rekaman suara tidak dapat dijadikan satu selama satu generasi yaitu :

  1. Sinkronisasi menjadi masalah utama yaitu gambar dan suara direkam dan diputar kembali oleh perangkat terpisah, sehingga sulit untuk memulai dan memainkannya serentak.
  2. Ketika diputar, volume suara yang memadai juga sulit dicapai, terutama  ketika proyektor film sudah memungkinkan film diputar di hadapan penonton teater yang luas, teknologi audio sebelum pengembangan penguat elektronik tidak dapat memenuhi kebutuhan suara untuk ruangan besar.
  3. Tantangan yang besar dimasa itu keterbatasan waktu rekaman suara yang hanya mampu 4 hingga 5 menit dan juga kejernihan hasil rekaman.

Pada tahun 1913, Edison memperkenalkan sebuah alat baru untuk sinkronisasi suara yang berbasis silinder yang diberi nama seperti penemuannya pada tahun 1895, yakni Kinetophone. Kinetophone Kondisi di lapangan ternyata jauh dari ideal, dan Kinetophone model baru dipensiunkan setelah lebih dari setahun.  Pada pertengahan dekade 1910-an, minat terhadap pertunjukan film komersial bersuara telah surut di Amerika. Kemampuan teknologi yang ada belum bisa memuaskan penonton untuk suara film, segala cara dilakukan termasuk dengan menyuguhkan musik orchestra secara langsung (Live) dan sound effect ketika film diputar pada adegan - adegan tertentu, cara ini dipopulerkan oleh DW. Griffith adalah seorang sutradara film terkemuka dan merupakan seorang perintis film Amerika. Hambatannya adalah cara ini mungkin tidak menjadi masalah jika film diputar pada hall yang besar yang dapat menampung penonton dan pemain orchestra sekaligus, akan tetapi pada ruang yang kecil hal ini tidak mungkin dilakukan. Kemudian Thomas Alfa Edison berfikir untuk kembali melakukan perekaman suara pada film itu sendiri bersama gambar untuk mengurangi biaya membayar musisi pada saat itu.

Sementara itu di Jerman, Vogt dan Joseph Engl mulai bereksperimen dengan suara film di Jerman, musim panas 1918. Mereka bekerja di rumah mereka dan membiayai penelitian mereka dengan tabungan mereka. Alat utama untuk merekamsuara dengan menggunakan lampu neon (Ultra frequency Lamp), yang digunakan Tri-Ergon untuk mengubah tegangan AC dari mikrofon untuk variasi cahaya. Paten pertama lampu diambil pada tahun 1919 di Jerman. Dengan lampu ini suara akan dirubah menjadi cahaya yang akan menyinari media film pada sisi luar porporasi. Dan ketika diputar di proyektor film, akan kembali disinari yang kemudian akan menghasilkan energi listrik yang kemudian dihantarkan  ke speaker sehingga menghasilkan suara kembali.

gbr.lampu neoun

Menjelang musim gugur, bergabunglah Joseph Mass Olle ke grup dan segera mereka membentuk perusahaan Tri-Ergon (Karya-Tiga) pada tahun 1920, kontak dengan seorang bankir yang membantu mereka untuk mendapatkan lebih banyak uang. Dan pada bulan Januari tahun berikutnya, mereka dapat membuka laboratorium besar di tenggara Berlin.  Beberapa demonstrasi pribadi dari Tri-Ergon teknologi film suara optik diimplementasikan pada musim semi 1921. Tentunya dengan cara proses  gambar dan suara film terpisah.  Demonstrasi publik pertama dari film suara sesuai dengan metode Tri-Ergon yang dilaksanakan di bioskop Alhambra di Berlin tanggal 17 September 1922.  Film drama mereka berjudul "Der Brandstifter". Film ini gambar dan suara di-strip sama film dengan lebar  42 mm lebar. Kecepatan film adalah 20 frame / detik. Posisi soundtrack luar berperpoforasi dan memiliki berbagai kerapatan, kepadatan variabel.  Pada tahun 1926 Joseph Engl bepergian ke Amerika Serikat untuk menunjukkan sistem suara Tri-Ergon untuk William Fox, yang membeli hak paten Amerika Serikat pada tahun 1927 untuk 50.000 dolar. Alat ini disebut Gallows, dan diproduksi Tri-Ergon 1919 percobaan dengan perekaman dan pemutaran suara optik. Pertama kali bisa mendengar suara optik Tri-Ergon dari mesin ini pada awal tahun 1920. Akan tetapi Sistem Tri-ergon belum bisa menyajikan suara untuk kapasitas penonton yang banyak yaitu dengan teknologi amplifier (penguat signal).  

 

 gbr. Tri-ergon

Teknologi amplifier sebagai pendukung teknologi suara film dilakukan oleh seroang peneliti  Amerika  pada tahun 1919 bernama  Dr. Lee De Forest.  Dr. Lee De Forest adalah seorang ahli broadcast radio, televisi dan telephone  melakukan penelitian tentang  teknologi optik suara pada film seluloid untuk aplikasi kebutuhan komersial yaitu memproyeksikan suara film untuk kepentingan jumlah penonton banyak dengan menngunakan teknologi . Pada sistem De Forest, sound track itu direkam pada fotografi ke sisi strip film- film untuk membuat komposit, atau "married print”. Jika sinkronisasi tepat antara suara dan gambar yang dicapai dalam rekaman maka semua dapat dihitung untuk kecepatan   pemutaran nantinya.

  

gbr. LeeDeForest

Selama empat tahun memperbaiki sistem dengan bantuan peralatan dan penemu seorang berkebangsaan Amerika yaitu Theodore Case.  Dengan teknologi lampu audion tube, De Forest dapat memperkuat (amplifier) signal  suara yang ada pada film dengan teknik variable density.  Sehingga pada tahun 1922 memperkenalkan The Forest Phonofilm Company di kota New york dengan memproduksi film bersuara melalui teknologinya Phonophone. Pada tanggal 15 April 1923, di Rivoli Theater New York City, screening pertama dengan menampilkan 18 film pendek dengan gambar dan suara pada film yang diproduksi dengan phonofilm akan tetapi pihak Hollywood masa itu tidak tertarik dengan penemuannya termasuk Carl Laemmle (Universal) dan Adolf Zukor (Paramout) yang merasa tidak ada keuntungan dari teknologi ini.  Orang yang pertama kali menggunakan Phonofilm adalah Max Fleischer and Dave Fleischer yang juga memproduksi  film cartoons dan  mereka membuat film musik  menggunakan cara Follow the Bouncing Ball yang dimulai pada bulan May 1924. Follow the Bouncing Ball adalah gambar bola memantul yang digunakan dalam menunjukkan irama lagu, membantu penonton untuk bernyanyi bersama dengan musik atau rekaman. Sebagai lirik-lirik lagu yang ditampilkan di layar, bola bergerak memantul di bagian atas kata-kata, menyertai  pada setiap suku kata ketika dinyanyikan. Selain itu Phonofilm Company juga membuat film pendek  rutin setiap minggu  yaitu Eddie Countour Show pada tahun 1923. De Forest juga bekerja sama dengan Freeman Harrison Owens dan Theodore Case dalam  menyempurnakan sistem Phonofilm. Namun, kontibusi yang telah  diberikan Freeman Harrison Owens dan Theodore Case seakan – akan tidak ada artinya dalam penemuan Phonofilm. Karena De Forest berkelanjutan mengesampingkan kedua rekannya  dan tidak pernah secara terbuka untuk mengakui kontribusi Theodore Case. Laboratorium penelitian Theodore Case tetap melanjutkan untuk membuat kamera sendiri tanpa De Forest. Puncak keretakan kerja sama mereka  ketika  kamera yang digunakan oleh Theodore Case dan rekannya Earl Sponable untuk merekam presiden Amerika Serikat.


gbr. Theodore Case

Calvin Coolidge pada tanggal 11 Agustus tahun 1924 merupakan salah satu film yang diputar oleh de Forest yang diklaim sendiri sebagai bagian produk penemuan De Forest. Melihat bahwa De Forest lebih peduli dengan ketenaran sendiri dan pengakuan dari publik bukan benar-benar ingin menciptakan sistem yang bisa diterapkan pada suara film secara bersama– sama, maka Theodore Case memutuskan hubungan kerjanya dengan De Forest pada musim gugur 1925. Akhirnya perusahaan Phonofilm  milik De Forest mengajukan kebangkrutan pada September 1926 dan pemilik jaringan teater, Isadore Schlesinger, memperoleh hak Inggris untuk Phonofilm. Dan merilis film pendek bersama British Artis Music Hall dari September 1926 hingga Mei 1929. Hampir 200 film pendek yang dibuat dalam proses Phonofilm, dan banyak yang diawetkan dalam koleksi dari Perpustakaan Kongres dan British Film Institute.  Theodore Case kemudian menegosiasikan perjanjian paten dengan kepala studio William Fox, pemilik Fox Film Corporation. Dengan ikatan kerjasama dalam membuat dan memasarkan proses sistem yang diberi nama Fox Movietone. Kemudian di Hollywood mulailah menggunakan sistem suara pada film dengan kamera Fox movietone,  termasuk perusahaan film Radio Company America (RCA)  dengan menggunakan  RCA Fotofon sebagai tanda  pada era Sound on Film.

  

gbr. Kamera movietone 

Era Sound On Disk  dilatar belakangi  oleh majunya bisnis suara musik dengan menggunakan  piring cakram Grammaphone,  awalnya diproduksi Bell Laboratories di New York City yang  didirikan oleh Western Electric yang sangat berkembang dan menjadi populer diseluruh dunia. Selanjutnya Bell Laboratories diakuisisi oleh Warner Brothers pada bulan April 1925.   Warner Brothers bersama Goldman Sach membuat Vitaphone Corporation dan  memperkenalkan sistem suara film dengan nama Vitaphone yaitu  sistem suara dengan mengunakan media piringan cakaram. Nama "Vitaphone" berasal dari bahasa Latin dan Yunani terdiri dua kata, yaitu masing-masing kata dengan arti  "hidup" dan "suara".

Pada awalnya  produksi suara film  dengan menggunakan Vitaphone yaitu dengan merekam orchestra score yang dilakukan di New York phenomenon. Film musikal tersebut ternyata membuat penonton tertarik saat itu dan Akibatnya permintaan  penyewaan ruang dan panggung  konser serta pemain musik di New York menjadi meningkat untuk melakukan rekaman musik film. Karena pertimbangan biaya penyewaan untuk melakukan perekaman musik,  Warners kemudian memindahkan kegiatan produksi  ini ketempat fasilitas produksi mereka  yang lebih lebih luas di pantai bagian barat Amerika yaitu Hollywood. West Coast Dance band  yang dipimpin  Henry Halstead membuat musik pertama Vitaphone untuk film pendek  di Hollywood dalam film Carnival Night in Paris (1927) dengan menampilkan Henry Halstead Orchestra dan ratusan pemain berkostum  penari  dalam suasana karnaval.


gbr. Henry Halstead Orchestra 

Vitaphone adalah sistem film suara yang digunakan untuk film dan hampir 1.000 film  pendek yang dibuat oleh Warner Bros dan First Nasional studio dari  tahun  1926 hingga  1931. Vitaphone adalah sistem analog sound-on-disc terbesar  dan satu-satunya  saat itu  yang secara luas digunakan dan sukses secara komersial. Soundtrack tidak dicetak pada film itu sendiri, tetapi diputar  secara terpisah pada piringan hitam, (Cakram) dengan menggunakan 33 1/3 rpm (kecepatan pertama kali digunakan untuk sistem ini) dan dengan media piringan hitam dengan ukuran diameter 16 inci.  Vitaphone  akan berputar bersamaan ketika   motor proyektor  film  diproyeksikan. Pada tanggal 6 Agustus 1926 Warner Brothers merilis Film Don Juan yang telah dipasang dengan score music simphony orchestra dan efek suara pada piringan cakram hitam  mirip  grammaphone disc.  Dalam film ini masih tanpa ada dialog yang diucapkan di film. Dengan cara ini tehnik  rekaman suara classic instrument secara langsung (live) menjadi populer dan juga melahirkan bintang – bintang  penyanyi opera. Satu-satunya yang benar – benar “berbicara” pada film- film pendek saat itu adalah salam pembukaan diawal setiap film dari produser dan distrubutor perusahaan film Vitaphone Corporation   bernama Will Hays. Film Don Juan saat itu mampu menghasilkan uang yang besar  dan menjadi box office saat itu dan membuat sistem vithaphone pun terkenal di Amerika hingga Eropa. Keberhasilan Film Don Juan memacu perusahaan yang bergerak pada industri film  untuk membuat film bersuara dengan serius.


gbr. Baleho film Don Juan 1926

Pengaruhnya adalah produksi film benar-benar memperhatikan suara dalam film itu sendiri  dan implikasinya pada jaman itu yaitu :

  1. Studio suara yang baru
  2. Bergairahnya investasi pada peralatan rekaman yang mahal untuk mendukung rekaman suara  khususnya musik
  3. Semua teater pertunjukan mulai memperhatikan kualitas akuistik ruangan  meskipun  perusahaan  perusahaan pembuat film itu belum memiliki standar sistem suara
  4. Adanya artis yang baik secara penampilan akan tetapi buruk secara karakter suaranya sehingga pencapaian kualitas suara dialog menjadi  perhatian yang serius, contohnya yang diceritakan pada  film  Singing In The Rain, tahun 1952

Kesadaran itu membuat lima perusahaan besar film diamerika  LOEW (MGM picture), Famous Players Lasky (Paramount), First National, Universal, Producer Distribution Cooporation bersama – sama membuat kesepakatan yang dikenal  Big five Agreement yaitu kesepakatan dengan menggunakan satu sistem pada pembuatan produksi suara film sebagai standar produksi gambar dan suara film.  Warner Brothers  tetap membuat film dengan merekam musik film menggunakan Vitaphone (dengan menggunakan grammaphone) pada tahun 1927 pada semua filmnya. Usaha Warner Brothers terbantukan oleh telah dibangunnya studio produksi film yang merupakan studio suara terbesar di dunia sejak 1920 yang mendukung industri film mereka.

gbr. Keramaian didepan gedung bioskop Warner

Warner Brothers memasukan unsur dialog pertama kali pada film  yaitu pada produksi Film Jazz Singer yang dibintangi Al Jonson pada tahun 1927 yang disutradarai oleh Gordon Hollingheads dan Alan Crosland. Film ini meledak dipasar dunia akan tetapi dialog film terpotong dengan keterbatasan teknologi Vitaphone sehingga dalam Film Jazz Singer menampilkan teks sebagai kelanjutan dialog. Keberhasilan Film Jazz Singer membuat  William Fox, pemilik Fox Film Corporation melihat film suara merupakan masa depan bisnis film.

  gbr.cuplikan Film Jazz Singer

Dengan teknologi yang telah dimilikinya dari Tri-Ergon yang telah dibelinya mulai merekam orang penting dunia seperti Benito Mussolini dan Goerge Bernard Shaw. Kemudian Fox bernegoisasi dengan Vitaphone Corporation agar saling melengkapi sistem teknologi mereka untuk membuat kesatuan standar sistem sound film khususnya teknisi dan sistem bioskop. Pada saat itu perusahaan – perusahan film yang lain juga mempunyai standar sendiri – sendiri sesuai dengan lisensi teknologi yang mereka miliki sebelum ada kesepakatan Big Five Agreement. Seperti Western Eletric bersama Electrical Research Product Incoporated dan Paramount dan Loew menganut sistem Vitaphone sedangkan RCA dan General Electric menganut sistem Photophone.

Warner Brothers kemudian membuat film pertama yang seluruh filmnya  berdialog dan musik pada film Lights of New York, Bryan Foy pada tahun 1928 dan menjadi box office di Hollywood. Dan pada tahun 1929 di Hollywood 75% film bersuara dengan 335 film yang berdialog, 95 film dengan menggabungkan dialog dan text dan 75 film dengan musik dan sound effect dan 175 film bisu. Untuk pengembangan konversi suara film yang terjadi pada tahun 1927 hingga 1929 telah menghabiskan investasi 300 milyar dolar yang merupakan 4 kali penghasilan perusahaan film masa itu. Pada tahun 1927 sampai 1950 merupakan Golden Era untuk film Hollywood sehingga banyak menghasilkan  genre film musikal. horor, komedi romantis, dan film animasi. Pada tahun 1948  terjadi masalah tentang bisnis film terutama antara pemerintahan Amerika dan Paramount Picture yaitu tentang legal monopoli bioskop. Bahwa pemilik studio film atau perusahaan film dilarang mempunyai atau mengelola  bioskop. Yang kedua adalah tidak diperbolehkan untuk mengklasifikasi kelas atau kelompok  film antara kelas A dan B untuk mengukur kualitas film dalam menentukan tempat penayang film artinya blocking bioskop tidak diijinkan. Kehadiran televisi membuat penghasilan industri film turun 50% pada tahun 1946 – 1955. Hingga untuk menyaingi televisi dan menarik penonton film kembali ke bioskop dibuatlah teknologi stereoscopic 3D film maupun widescreen yang secara dimensi gambar lebih lebar secara asfek rasio dan memajukan sistem suara film dengan menggunakan sistem multy channel sound dari academy optical mono track sound pada film strip. Film pertama yang merupakan film dengan menggunakan sistem multy channel sound adalah Film Fantasia produksi Disney yang dirilis pada tahun 1940 dengan memperkenalkan sistem suara Fantasound yaitu sistem multy channel sound yaitu 4 jalur suara yang diperdengarkan di bioskop. Namun hanya 2 bioskop yang waktu itu dapat memutar sistem suara ini, yang akhirnya membuat sistem ini tidak bisa berkembang. 


gbr. Cuplikan film Fantasia

Semua perusahaan film waktu itu berpacu mengembangkan sistem multy channel sound film. Akan tetapi akibatnya setiap perusahaan film menjadi individualisme dengan menciptakan sistem suara bioskop sendiri- sendiri.  Kemudian Cinerama pada tahun 1952 dengan menggunakan 3 proyektor dengan menggunakan sistem suara 7.1 speaker surround.  Caranya teknisnya adalah dengan menggunakan 3 proyektor yang di pararel dan sinkronisasi suara dengan meletakkan 5 setengah melingkar speaker di depan dan 2 speaker belakang sebagai  surround speaker.


gbr. Multy chanel sound dan projector

Kemudian Fox 20 Century memperkenalkan sistem suara  sinemascope dengan 4 jalur suara.  Sinemascope  menaruh 3 speaker di depan bagian belakang layar dan satu di belakang sebagai surround speaker. Untuk proyeksi gambar, Fox masih menggunakan 3 kamera untuk menampilkan proyeksi gambar cinemascope. 

gbr.sistem gambar  sinemascope

Selanjutnya sistem suara film berkembang dengan nama Perspectra yang diadopsi oleh Vista Vision yaitu suara mono pada optical sound film yang dipisah menjadi 3 suara Left , Center, Right dengan memberi efek suara rendah (bass) yang sekarang dikenal sebagai subwover. Ketiga speaker ini di calibrasi dan low frequency  responce dengan menggunakan 30 Hz pada Left  speaker, 35 Hz pada Center speaker dan 40Hz pada Right speaker. Dengan menggunakan calibrasi ini suara film terutama sound effect dan dialog menunjukkan peningkatan kualitas efek suara. Selanjutnya perusahaan film Tood Ao menggunakan 6 channel suara dengan media magnetic track film. Kendalanya adalah bahan baku magnetik film ini menyebabkan resiko jump sync dengan projector, resiko magnetic tergores dalam penggunaan yang berulang  serta biaya (cost) tambahan untuk printing sound. Langkah besar dalam perkembangan teknologi suara dalam pencapaian kualitas suara adalah ketika Academy of Motion Picture Art and Sciences melakukan riset bersama film maker untuk menghasilkan suara yang baik dengan ukuran ruangan bioskop yang besar maupun kecil dengan cara menentukan standarisasi setting dan instalasi audio sistem. Dari hasil riset mereka membuat standarisasi frequency response yaitu mulai 25Hz  dan menurun pada  10.000 Hz.


gbr. Academy Curve

Para peneliti melibatkan para pembuat film bertujuan untuk mengakomodasi suara yang dibuat (design) dan diciptakan oleh para penata suara untuk semua jenis film. Sehingga semua proses mixing suara (dialog, musik, foley, efek, dan musik) dapat diperdengarkan dengan baik dibioskop yang waktu itu telah mempergunakan 16 track multy channel analog recording. Dengan memotong frequency 20 Hz dan 20.000 Hz hasil suara terdapat noise media pada seluloid film atau di sebutan “Hiz noise”  yang cukup mengganggu untuk penonton. Terlebih frequency range musik yang lebar membuat karakter suara musik sedikit berubah dari hasil mixing-nya. Hingga pada tahun 1960 Dolby Ray menemukan sistem kompresori dengan cara membuat  Compresion system  dan Decompresion system suara pada film strip sekaligus menurunkan noise ratio pada media seluloid. Sistem kerjanya adalah semua sumber suara pada film di compresi terlebih dahulu sebelum direkam pada media rekam (seluloid) dengan tujuan mengurangi noise rekaman, kemudian jalur suara (optical sound track) tadi dikeluarkan kembali melalui Decompresi untuk mengurangi noise pada media hasil rekaman baru diperdengarkan kepada penonton melalui loudspeaker.  Sistem ini disebut Dolby A, pada tahun 1966. Sistem Dolby A akhirnya digunakan sebagai standar produksi suara  pada seluruh industri film untuk mereduksi noise pada seluloid. 


 gbr. Ray Dolby

Pada tahun 1971 film pertama yang menggunakan Dolby A  sebagai noise reduction pada film dengan mono optical sound film adalah film A Clock Work Orange dengan sutradara Stanley Kubrick.  Bukan hanya  noise reduction pada media rekam, Ray Dolby juga membuat Dolby X Curve frequency range untuk suara bioskop. Dolby curve ini lebih lebar dibandingkan dengan academic curve sebelumnya yaitu dari 20 HZ hingga 16.000Hz dan menurun habis di 20.000 Herz.


  gbr. Dolby X Curve

Dynamic frequency responce terhadap accouistic responce bioskop dan yang semula menggunakan standar academic curve kemudian diganti dengan menggunakan standar dolby X curve.  Dengan menggunakan dolby X curve, calibrasi (tuning) suara menggunakan suara yang disebut Pink Noise untuk mengetahui keseimbangan kekerasan suara (balance) untuk mencari titik point posisi tengah suara.

gbr. Kalibrasi Pink Noise 

Dengan adanya sistem kalibrasi pink noise maka sound engineer menggunakannya untuk mengkalibrasi speaker terhadap frequency responce dan accouistic responce di studionya oleh seluruh diseluruh dunia. Ini dilakukan agar tidak terjadi masalah proyeksi suara  khususnya perbedaan “warna suara”  ketika diputar dibioskop besar maupun kecil. Kemudian pada tahun 1976 Ray Dolby memperkenalkan sistem suara dolby stereo untuk sistem suara bioskop. Film pertama yang menggunakan sistem dolby stereo adalah film A Star Born.


gbr.Poster Film dolby stereo pertama

 Dolby stereo sebenarnya memiliki 4 channel suara akan tetapi pada film strip-nya terdapat 2 track suara. Kedua track suara pada seluloid tadi akan dibaca menjadi dimensi suara Left torttle (Lt) dan Left channel serta Right tortlle (Rt) dan Right channel. Dengan menurunkan 3 dB  kekerasan yang berasal dari  channel Lt dan Rt maka terciptalah Channel Center (tengah) lalu untuk dimensi surround diciptakan dengan menurunkan 3 dB dan membuat +90 derajat suara yang diarahkan dari Lt  (Left torttle) dan -90 derajat dari Rt (Right torttle). Dan tahun 1977 Dolby meliris film Stars IV “New Hope” War dengan menggunakan sistem dolby stereo yang disutaradai George Lukas dan Ben Berd mendapat penghargaan Academy Award (Oscar) melalui sound effect-nya.

gbr. Sistem kompresi dan dekompresi  noise  film Dolby A

Kemudian George Lukas  dan Lukas Film setelah membuat film Stars Wars “Return of Jedai” pada tahun 1993 juga tertarik membuat sistem penataan suara bioskop dengan membuat sistem suara yang disebut THX. THX berkonsentrasi membuat image surround sound, noise limit, picture sharpness, reverb time terhadap dimensi ruang serta mengutamakan kualitas sound effect.

gbr.Cuplikan Film Star Wars

Teknologi dimensi suara film  menjadi terus berkembang dengan sistem surround membuat dolby juga mengeluarkan sistem terbarunya yaitu Dolby SR. Dolby SR tidak hanya meningkatkan kualitas noise reduction pada media rekam seluloid dan sistem rekaman dengan dynamic range yang lebih lebar terutama untuk kebutuhan  live recording  dan kualitas suara yang lebih presisi untuk penentuan posisi suara surround yang lebih baik. Film yang pertama menggunakan sistem Dolby Surround adalah Robot Cop dan Innerspace. Pada Tahun 1993 Dolby merilis Dolby Digital dengan menyimpan data suara digital film diantara sprocket hole (lubang porporasi)

gbr. Poster Film Robocop dan Innerspace

film dengan sistem alogaritma digital yang disebut kompresi Digital AC-3. Disisi terdalam dekat spoket hole juga disertakan data analog sound yang dapat dibaca ketika ada kegagalan membaca data suara digital sebagai cadangan (Back Up).


gbr. Digital AC-3 dan analog data suara pada film

Film yang pertama menggunakan sistem suara film Dolby Digital adalah film Batman Return. Film Batman Return menggunakan sistem suara film 5.1 surround, dimana suara dibagi atas channel Left, Right, Center, Subwofer dan Left surround dan Right surround. 

 

 gbr. Poster Film Batman Return   film

Selanjutnya detail format suara film digital dengan menggunakan format 5.1 berkembang dengan munculnya format DTS  atau Digital Theater Sinema yang juga membuat sistem suara film digital tetapi menggunakan sistem data suara dengan menggunakan seperti jaman vitaphone yaitu media penyimpan data menggunakan sistem cakram yaitu CD-Room dengan syncronisasi suara dan gambar menggunakan timecode yang disimpan di seluloid film. Persamaan teknologi suara film digital  antara dolby digital dengan DTS adalah sama – sama menggunakan alogaritma kompresi digital pada  sistem data. Bedanya dolby digital masih menyimpan data suara pada seluloid sedangkan DTS menggunakan seluloid sebagai penyimpan data  timecode. DTS menjadikan sistem suara terpisah menjadi 2 bagian  yang mengingatkan kita pada awal suara dan gambar di-syncronisasi-kan. Negara Jepang selanjutnya juga merilis teknologi suara film digital dengan sebutan SDDS atau Sony Dynamic Digital Sound yang membuat format proyeksi suara film 10.2 dengan menggunakan sistem Cakram berupa Hardisk. Dari sinilah selanjutnya perkembangan teknologi juga terjadi pada proyeksi gambar yaitu dari menggunakan proyektor seluloid berubah dengan menggunakan sistem DCP (Digital Cinema Package) hingga saat ini.


Dari pemaparan tentang  sejarah perkembangan teknologi suara film di dunia seharusnya menjadi pembelajaran penting tentang penerapan  teknologi yang ada di indonesia.  Ada tiga  subjek  yang dapat dijadikan pembelajaran  dari  sejarah perkembangan film dunia yaitu para perusahaan film, pembuat film maupun pemerintah. Dalam kenyataannya sekarang ini industri film indonesia secara teknis memproduksi film dilakukan dengan cara berjalan sendiri – sendiri. Jika dilihat dari sejarah dunia hal ini pun pernah terjadi ketika Warner Brothers menggunakan vithaphone sedangkan FOX dan perusahaan film yang lain di Hollywood  menggunakan  fox-movietone. Hanya saja perbedaannya, jika Warner dan Fox menerapkan sistem produksi berbeda karena masalah monopoli teknologi industri film sedangkan di Indonesia masalahnya adalah pembiayaan.  Hal Ini ditemukan dari hasil obeservasi dan wawancara pada seluruh nara sumber di bidang suara film bahwa penggunaan teknologi film khususnya prosedur dan produksi suara film Indonesia masih berorentasi “desain by budget” atau pembuatan film dibuat berdasarkan dari modal. Sehingga menyebabkan ada keragaman kualitas teknis dari hasil akhir produksi film. Sejarah teknologi suara film dunia ini seharusnya digunakan para pelaku film untuk memahami tentang pencapai teknik  teknologi suara film dan memanfaatkanya dengan tepat untuk mendukung konsep film yang akan dibuatnya. Kembali lagi pada kenyataan yang terjadi pada industri film indonesia masih ada yang “buta” tentang format akhir suara sebuah film. Terkadang masih ada rumah produksi  yang membuat format akhir suara film dengan format stereo meskipun sebenarnya di bioskop tempat pemutaran film tersebut dapat mengakomodasi format surround 5.1 atau 7.1 surround.