Teknik rekaman pada tahap sound production

Teknik rekaman profesional pada tahap sound production adalah teknik yang menggunakan standar oprasional SMPTE atau Society Motion Picture Television Engineer. Lepas terhadap perdebatan standarisasi rekaman bahwa media untuk menyatukan sinkronisasi anatar gambar dan suara adala timecode. Oleh sebab itu diperlukan 2 sistem bantu yaitu pengirim time code (master timecode) dan penerima timecode  (slave timecode).   Salah satu contohnya adalah dengan penggunaan peralatan  seperti Sound Device tipe T series yang dilengkapi dengan ambience sync timecode.

gbr. Timecode connector

702T, 744T, 788T memiliki fungsi timecode canggih. Salah satu fitur timecode-nya adalah kemampuan untuk mengejar dan merekam timecode  dari timecode eksternal. Proses  kerja alat ini disebut "reader" mode. Nilai kode waktu yang ditampilkan oleh perekam akan menunjukkan +1 frame offset dari sumber master timecode eksternal ketika master pada mode berhenti.  Caranya yaitu  :

  1. Pada menu timecode audio recorder posisikan slave timecode  pada audio recorder kemudian dengan menggunakan kabel sesuai yang direkomendasikan recorder-nya (contoh kabel limo) timecode  out recorder.

gbr. Ambience time code pada sound device type T

  1. Hubungkan XLR Male dengan label “TC Out”, (kabel biru) splitter cable ke Female connector XLR Barrel Adapter. TC Output connector dengan Male connector dengan ukuran 25' - 50' XLR kabel untuk memperpanjang sebagai tambahan “extension” kabel dari 744T Time Code slate ke kamera.

 

gbr. Extension kabel

3.Koneksikan Female connector dari extender kabel XLR Male connector ke RCA Splitter Cable (kabel hitam). The RCA Splitter Cable akan membawa timecode signal dan secara terus menerus (continues) yang berasal dari output audio recorder ke dua connectors tersebut. Sebagai contoh gambar dibawah ini dengan menggunakan RCA connectors (dengan label TC SLATE) RCA Female to 1/4" Mono Plug Adapter yang digunakan oleh Timecode Slate dan dikoneksikan dengan connector BNC kabel yang akan dipasangkan ke kamera sebagai pengirim  time code. 

 

gbr. connector NBC dan phono jack

4.Hubungkan time code outsignal melalui connector phono ¼ inch ke time code in pada slate digital board.

5. Atau bisa juga langsung dihubungkan ke timecode pada kamera apabila tidak memiliki slate digital board.

 

gbr. Sistem koneksitas anata digital Camera dengan digital  susdio recoder

Dengan demikian dengan canggihnya sistem singkronisasi maka sistem klep board konvensional sudah diganti dengan sistem digital slate. Sehingga kleper saat ini masuk di dalam departemen suara film sebagai sound report. Dengan penerapan slate digital membuat sistem manajemen suara akan lebih baik, dan akurasi terhadap syncronization tidak perlu dipertanyakan lagi. Sehingga ke depan tidak ada lagi suara film  yang tidak sync antara gambar dan suara.

 

gbr. Automatic  sync dengan time code

Proses  singkronisasi ini dilakukan pada tahapan sound conforming di meja editing. Kemajuan sistem digital, tersedianya software editing adobe premiere dan final cut pro  kemudahan penyelarasan suara dan gambar dengan sistem rekaman double system bukan menjadi hambatan lagi. Dari hasil suara dan gambar yang telah diselarakan ini., editor akan memberikan file berupa OMF (Open Media Framework) dan XML (eXtended Markup Language)serta EDL (edit decision list). Pengertian dari OMF adalah sebuah media data yang digunakan antar  lintas platform format file yang disebabkan perbedaan sistem pada sofware. Sistem data ini berfungsi untuk menukar data video dan informasi urutan data audio diantara sistem editing yang berbeda.  File format OMF awalnya digunakan dan dikembangkan oleh Avid, akan tetapi saat ini telah banyak aplikasi software  editing yang telah memasukkan OMF sebagai  transfer data yaitu dengan sistem impor dan ekspor compabilty. Hari ini, OMF yang paling sering digunakan untuk mentransfer urutan audio, lagu, dan klip informasi dari sistem editing video ke aplikasi pasca-produksi audio.

Ada beberapa keuntungan menggunakan OMF untuk mengirimkan data  suara (ekspor audio) yaitu :    

  1. Dengan pengiriman data dengan data OMF klip audio dan file media audio (dengan atau tanpa gambar) maka data suara dan gambar akan tertanam dalam satu file data.
  2. Dapat mengirimkan data (ekspor) dalam jumlah banyak pada track audio yang dimiliki sesuai urutan yang dibuat.
  3.  Informasi  suara fade out / fade in ( suara memudar dan muncul) dapat ditampilkan kembali pada lokasi yang sama secara otomatis seperti urutan aslinya.

 

gbr. Data icon OMF

Sedangkan XML (eXtended Markup Language) adalah berupa data dokumen berupa file teks ASCII  yang disertai dengan elemen tag.  Dengan fasiltas sistem pendataan ini maka memungkinkan kita  untuk mentransfer rincian library , peristiwa, project, dan klip antara  software editing dan aplikasi yang lain khususnya  editing dan audio. dokumentasi pengembang XML. Data XML hanya dapat memuat 4 track audio dalam satu file. Pendataan dengan sistem XML lebih banyak digunakan untuk keperluan proses editing, grading dan off line dan Online editing.

Sedangkan EDL (edit decision list) adalah  kumpulan data - data yang disatukan dan berisikan daftar gambar – gambar yang digunakan pada editing dalam proses pasca-produksi editing film dan video editing. Daftar ini berisi daftar dengan nomor reel dan timecode data yang mewakili setiap klip video yang dipakai secara beurutan pada timeline editing.  EDL ini  diciptakan oleh sistem editing offline, atau bisa juga dokumen kertas (papaer dokument) yang dibangun secara manual seperti gambar  tau video  pada  gambar atau video  yang telah di susun (logging). Pada sat ini  sistem linear editing video telah digantikan oleh linear non editing (NLE)  sehingga sistem yang terdapat dapat pendataan EDLs output maka secara elektronik dan komputerisasi memungkinkan untuk auto conform pada sistem editing online. Sehingga penciptaan kembali dari program telah diedit dari sumber asalnya (biasanya video) sehingga dapat dilihat dan didapatkan tentang pengambilan keputusan editing  gambar dan video pada EDL.

Pengertian editing  editing  menurut Roy Thompson and Christopher J, menyebutkan  bahwa “Editing for motion pictures is the process of organizing, reviewing, selecting, and assembling the picture and sound “ footage ” captured during production. The result of these editing efforts should be a coherent and meaningful story or visual presentation that comes as close as possible to achieving the goals behind the original intent of the work — to entertain, to inform, to inspire, etc”. Artinya Editing adalah proses mengorganisir, reviewing, memilih, dan menyusun gambar dan suara hasil rekaman produksi. Editing harus menghasilkan tayangan gambar yang padu dan cerita yang penuh makna sesuai apa yang telah direncanakan sebelumnya yaitu untuk menghibur, menginformasikan, memberi inspirasi dan lainnya. Disamping itu menurut  J.B Wahyudi: 2004 bahwa editing yaitu kegiatan memotong-motong gambar yang panjang, menyambung potongan-potongan gambar yang bercerita (memiliki sekuen) dalam durasi yang ditentukan, dan siap ditayangkan pada waktunya.